Jaman kami kuliah di UKSW Salatiga dulu, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) memang dibagi dua tujuan lokasi; Jawa dan Sumba. Rombongan kami, ada sekitar 30 orang adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas, nantinya akan dibagi dua tim Sumba Timur dan Sumba Barat (di tahun itu belum pemekaran) Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu orang Dosen Pembimbing. Nah, saya masuk ke kelompok Sumba Barat bersama Kak Bani Umbu Rauta, sebagai Dosen Pembimbing kami asli Sumba Tengah, dan ternyata punya hubungan kerabat dengan orang-orang di Wanukaka, Sumba Barat.
Kenapa memilih Sumba, kok ga di Jawa aja yang masih bisa sempet pulang Salatiga atau main ke kota di waktu free?? Ada beberapa alasan;
Pertama teman-teman asli Sumba selalu cerita tentang keindahan Sumba, itu bikin penasaran.
Kedua, salah satu usaha mewujudkan mimpi traveling, sampai harus merayu ortu supaya diijinin.
Ketiga, lagi jenuh dan hampir putus asa sama kuliah dan rutinitas di Salatiga (lagi labil ceritanya). Harapannya bisa menjernihkan pikiran, jadi punya semangat baru buat menyelesaikan semua yang sudah dimulai di Salatiga.
Kita juga harus ikut test dulu sebelum terppilih dan berangkat. Beberapa teman asli Sumba juga ikut memilih KKN Sumba. Taruhan, pasti alasan mereka sebernarnya sekalian pulkam..
 |
| foto diambil dari google |
TIM BERANGKAT!
Untung masih ketemu buku catatan kecil tentang perjalanan ke Sumba. Inilah perjalanan kami;
21 Juli 1996 21:00
Rombongan KKN Sumba berangkat menuju pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
22 Juli 13:00
Siang ini kami berangkat dengan kapal laut Binaiya menuju Waingapu. Untung cuaca cerah, perjalanan jadi terasa menyenangkan. Mungkin kalo kejadiannya sekarang dah pake teriak di atas kapal seperti program acara TV yang hits itu deh ..
23 Juli
Senang sekali kami sempat lihat lumba-lumba sebelum transit di Benoa, Bali lalu lanjut berlayar dan transit lagi di Lembar, Lombok. Kami sempat merasakan goncangan akibat ombak tinggi saat melewati jalur di Samudera Hindia. Untungnya aman, meski beberapa teman ada yang mabuk laut juga.
24 Juli
Ini hari ketiga kami berlayar. Sempat transit di Bima, NTB dan berhenti cukup lama. Tapi kami memilih tetap di kapal saja. Dari Bima kami lanjut berlayar hingga akhirnya kapal memasuki daerah Labuan Bajo, Flores yang sangat indah. Pemandangannya menakjubkan. Kapal hanya berhenti di antara selat kecil, kemudian penumpang yang hendak turun atau naik harus memakai kapal kecil. Dalam hati bilang semoga suatu hari bisa ke sini lagi.
Nah, saat malam tiba kegiatan kami di kapal kalo ga tidur, ya ngobrol, nulis. Mungkin membosankan buat anak jaman now. Ya jelas bedalah sama jaman sekarang yang semuanya serba gadget, canggih. Sempat perhatikan si Ucok ( padahal bukan Batak juga hahaha) tenang-tenang saja dan selalu menulis buku diary. Saya lebih seneng keluar dan nongkrong di dek kapal, melamun sambil liat bintang-bintang.
25 Juli 01:30 WITA
Sampai di Waingapu, istirahat dulu. Jam 9 pagi kami bertemu dengan Pemda, sekalian minta ijin. Di sore harinya kami bertemu dengan Gereja Kristen Sumba, sebelum beristirahat.
Keesokan harinya enambelas mahasiswa termasuk saya berpisah dengan tim Sumba Timur. Kami melanjutkan perjalanan ke Waikabubak, Sumba Barat. Kira-kira perjalanan dengan bus 3/4, menghabiskan waktu 3 jam. Di sini kami diterima oleh Bupati Sumba Barat lalu beristirahat lagi di hotel RAKUTA.
 |
| Pemandangan indah sepanjang jalan Waingapu menuju Waikabubak, diambil 2016 |
27 Juli menuju desa, Wanukaka
Jalanan yang kami tempuh masih kurang bagus saat itu. Makanya obat anti mabok dibutuhkan supaya tidak mual, apalagi muntah. Saya coba bertahan tidak minum obat daripada rugi ga bisa nikmati keindahan alam di sepanjang jalan. Lewat setengah perjalanan saya mual dan akhirnya muntah, sial!
Saya menyerah, daripada muntah lagi lebih baik saya minum antimo. Eh, salah perhitungan bung... memang mualnya sudah hilang, jalanan juga sudah mulai aman, tapi ternyata jaraknya tidak terlalu jauh. Walhasil saya mengantuk dan sempat tertidur saat penerimaan di rumah Pak Camat Wanukaka! Maap....
KKN DIMULAI
Penerimaan rombongan KKN ditandai dengan salam Sumba, yaitu saling cium hidung. Salam yang sangat unik, lucu tapi menyenangkan. Setelah itu kami disuguhi sirih pinang, sebagai salam perkenalan adat Sumba dan NTT pada umumnya. Awalnya kami sedikit ragu mencoba sirih pinang, tapi memang harus coba karena sebulan kedepan hidup sirih pinang pasti selalu ada.
Suasana jadi lebih santai lagi saat minum kopi Sumba yang lezat beraroma jahe dan sedikit cengkeh (katanya khas Waijewa). Juara dan bikin nagih!!
Akhirnya, Kak Bani, Dosen kami membagi lagi per-2 orang untuk menempati rumah tinggal bersama keluarga angkat kami di sini.. Jeng jeng...ternyata saya dan Himawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi, tinggal di rumah ini, bersama keluarga Pak Camat, Bapak Melkianus Bili (Alm). Acara penerimaan selesai, teman-teman langsung menuju rumah masing-masing. Saya dan Himawan (Him) juga langsung menuju kamar, beberes dan tidur siang sebelum lanjut ke keseruan yang lain ;)
@mahewardhana