Kamis, 28 Februari 2019

AWAS, JANGAN SALAH BICARA, ELLY

Baru beberapa hari ini kami tinggal di desa, tempat kami KKN di Wanukaka. Untungnya kami semua betah, selalu menyibukkan diri dan membuat keseruan di sini. Masyarakat di sini pun begitu baik memperlakukan kami. Pada awalnya sulit menunjukan kelembutan dan ketulusan hati mereka dibalik wajah keras mereka, dan juga cara mereka bicara. Kalo ga tau pasti dah takut duluan.  Singkatnya,  mereka selalu mau menyenangkan kami, dan itu adalah bagian dari pelayanan (service) mereka. Biasanya orang-orang seperti ini cenderung apa adanya dan tidak mau berputar-putar, langsung to the point.

Di awal kami datang saja sudah ada kejadian lucu, yaitu di rumah yang akan ditinggali Elly, mahasiswa Fakultas Hukum. Maksudnya mencari topik percakapan yang seru, eh diartikan lain oleh yang punya rumah. Begini ceritanya, karena baru datang, maka mahasiswa berusaha mengenal dan mendekatkan diri. Sambil duduk minum kopi, lalu  memperkenalkan diri. Tiba-tiba suasana jadi hening. Elly mencoba memulai lagi pembicaraan dengan topik baru. Sementara berpikir topik apa yang tepat, eh anjing yang sangat besar dan gagah lewat. Spontan Elly bilang uh huuuyyy... (sorry becanda hehehe)
"Bapa, ini anjingnya ya? Wah besar sekali ya," puji Elly kagum. 
Bapa pun balik bertanya,"Elly suka ya?"
"Wah suka sekali," sahut Elly tanpa ragu.

Semua mahasiswa terdiam seperti shock!  Bapa dengan lantang memberi perintah: Potong sudah!!!
Kami semua tampak bengong, Elly yang akhirnya sadar tanya ke Bapa," kok dipotong??"
"Elly suka toh? Tidak apa-apa, nanti kita orang bisa makan sama-sama."
Padahal Elly tidak makan daging anjing lho..
Malam harinya daging anjing yang sudah diolah jadi erwe dibagi-bagikan ke tetangga, termasuk kami tetangga terdekatnya.
Jangan salah bicara lagi deh. Hati-hati ya El.. 

Ada kepercayaan mereka bahwa apabila mereka banyak kedatangan tamu, bisa melayani tamu-tamu mereka, mereka percaya bahwa berkat melimpah bagi mereka dan keluarga. Mereka rela berikan apa yang ada, kadang tanpa perlu pikir lagi.

@mahewardhana

KEGIATAN KKN PERTAMA, SAYA MABOK!

Hari pertama di Wanukaka, sudah sore sekitar pukul 16.00 WIT.
Saya terbangun dan mendengar suara orang-orang bicara dalam bahasa Sumba. Jelas saya tidak mengerti. Kalau kalian pertama kali dengar pasti menyangka ada yang tengah berkelahi. Memang cara mereka bicara seperti itu, ada penekanan dan suara keras.
Waktu saya keluar rumah Him sudah bersama mama di kebun di samping rumah. Saya berjalan menuju datangnya suara ribut-ribut, dari rumah tetangga. Seorang bapak  dari dalam rumah memanggil saya untuk bergabung. Di atas meja ada gelas dan beberapa botol minuman keras. Baunya sangat menyengat, mereka sebut pinaraciSaya penasaran, nih minuman apa rasanya ya, sampe merah warnanya, dan bau kaya spirtus begini. Bapak yang tadi adalah salah satu yang dituakan di sini, Bapak Boku Haga. Sepertinya masih ada hubungan kerabat dengan Kak Bani. 
"Ubbu, maika, inu"... kalo saya tidak salah ingat ya. artinya "Nak, ayo minum"
Kak Bani  datang berusaha menolak dan mengingatkan bahwa peraturan peserta KKN  tidak diperbolehkan minum minuman keras.  Tapi mereka seperti bergeming. Om Boku Haga angkat suara,"kau larang dia minum, saya larang kalian KKN di sini." Singkat, padat jelas! 
Hahaha dapatlah minum 2 atau 3 putaran. Rasanya? Kebakaraannn arghh... Ini minuman gila, reaksi pusing memabukkannya pun sangat cepat.
Alasan ke kamar mandi, saya coba atur napas. Paling tidak jangan tumbang, netralisir ini karena kita ada meeting pertama KKN selepas magrib.
Untungnya waktu saya kembali putaran sudah ditutup kareana minuman habis. Kami pun langsung menyusul peserta KKN yang sudah berkumpul di rumah dekat sekolah.

Di tempat meeting tim sudah berkumpul. Mereka Westan, Adri Sabaora, Philos, Franky, Nono, Icho, Elly, Himawan, Iwan Butar-Butar, Irwan, Harry Cornel, Dini, Jem, Fimmi, Oni Nata, Regina Kailola. Ada aktivis kampus dan ada juga yang doyan minum. Maka proteslah mereka karena kami datang terlambat dan dalam kondisi sempoyongan ditambah nafas bau dari mulut saya hihihi... 
Untung mereka bisa mengerti dengan situasi yang dihadapi oleh Kak Dosen dan mahasiswanya ini. Sulit bukan??
Jadi pesan moral dari kejadian ini adalah MIRASANTIKA adalah lagu ciptaan Bang Rhoma, garingggg... maap
Gara-gara kejadian di atas, maka seperti ada gentle agreement bahwa Bir diijinkan tapi tidak boleh sampai mabok. Minuman sejenis pinaraci dilrarang yaa (kalo saya kan dipepet ceritanya hahaha...)

@mahewardhana

KKN SUMBA 1996, BERANGKAT!

Jaman kami kuliah di UKSW Salatiga dulu, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) memang  dibagi dua tujuan lokasi; Jawa dan Sumba. Rombongan kami, ada sekitar 30 orang adalah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas, nantinya akan dibagi dua tim Sumba Timur dan Sumba Barat (di tahun itu belum pemekaran) Masing-masing kelompok dipimpin oleh satu orang Dosen Pembimbing. Nah, saya masuk ke kelompok Sumba Barat bersama  Kak Bani Umbu Rauta, sebagai Dosen Pembimbing kami asli Sumba Tengah,  dan ternyata punya hubungan kerabat  dengan orang-orang di Wanukaka, Sumba Barat.


Kenapa memilih Sumba, kok ga di Jawa aja yang masih bisa sempet pulang Salatiga atau main ke kota di waktu free?? Ada beberapa alasan; 
Pertama teman-teman asli Sumba selalu cerita tentang keindahan Sumba, itu  bikin penasaran. 
Kedua, salah satu usaha mewujudkan mimpi traveling, sampai harus merayu ortu supaya diijinin.
Ketiga, lagi jenuh dan hampir putus asa sama kuliah dan rutinitas di Salatiga (lagi labil ceritanya). Harapannya bisa menjernihkan pikiran, jadi punya semangat baru buat menyelesaikan semua yang sudah dimulai di Salatiga.
Kita juga harus ikut test dulu  sebelum terppilih dan berangkat. Beberapa teman asli Sumba juga ikut memilih KKN  Sumba. Taruhan, pasti alasan mereka sebernarnya  sekalian pulkam..  


Image result for pulau sumba, map
foto diambil dari google

TIM BERANGKAT! 
Untung masih ketemu buku catatan kecil tentang perjalanan ke Sumba. Inilah perjalanan kami;

21 Juli 1996 21:00 
Rombongan KKN Sumba berangkat menuju pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. 

22 Juli 13:00
Siang ini kami berangkat dengan kapal laut Binaiya menuju Waingapu. Untung cuaca cerah, perjalanan jadi terasa menyenangkan. Mungkin kalo kejadiannya sekarang dah pake teriak di atas kapal seperti program acara TV yang hits itu deh ..

23 Juli 
Senang sekali kami sempat lihat lumba-lumba sebelum transit di Benoa, Bali lalu lanjut berlayar dan transit lagi di Lembar, Lombok. Kami sempat merasakan goncangan akibat ombak tinggi  saat  melewati jalur di Samudera Hindia. Untungnya aman, meski beberapa teman ada yang mabuk laut juga.

24 Juli
Ini hari ketiga kami berlayar. Sempat transit di Bima, NTB dan berhenti cukup lama. Tapi kami memilih  tetap di kapal saja. Dari Bima kami lanjut berlayar hingga akhirnya kapal memasuki daerah Labuan Bajo, Flores yang sangat indah. Pemandangannya menakjubkan. Kapal hanya berhenti di antara selat kecil, kemudian penumpang yang hendak turun atau naik harus memakai  kapal kecil. Dalam hati bilang semoga suatu hari bisa ke sini lagi. 
Nah, saat malam tiba kegiatan kami di kapal kalo ga tidur, ya ngobrol, nulis. Mungkin membosankan buat anak jaman now. Ya jelas bedalah sama jaman sekarang yang semuanya serba gadget, canggih. Sempat perhatikan  si Ucok ( padahal bukan Batak juga hahaha) tenang-tenang saja dan selalu menulis buku diary.  Saya lebih seneng keluar dan nongkrong di dek kapal, melamun sambil liat bintang-bintang. 

25 Juli 01:30 WITA 
Sampai di Waingapu, istirahat dulu. Jam 9 pagi kami bertemu dengan Pemda, sekalian minta ijin. Di sore harinya kami bertemu dengan Gereja Kristen Sumba, sebelum  beristirahat.
Keesokan harinya enambelas mahasiswa termasuk saya berpisah dengan tim Sumba Timur. Kami melanjutkan perjalanan ke Waikabubak, Sumba Barat. Kira-kira perjalanan dengan bus 3/4, menghabiskan waktu 3 jam. Di sini kami diterima oleh Bupati Sumba Barat lalu beristirahat lagi di hotel RAKUTA.

Pemandangan indah sepanjang jalan Waingapu menuju Waikabubak, diambil 2016 

27 Juli menuju desa, Wanukaka
Jalanan yang kami tempuh masih kurang bagus saat itu. Makanya obat anti mabok  dibutuhkan supaya tidak mual, apalagi muntah. Saya coba bertahan tidak minum obat daripada rugi ga  bisa nikmati keindahan alam di sepanjang jalan. Lewat  setengah perjalanan saya mual dan akhirnya muntah, sial! 
Saya menyerah, daripada muntah lagi lebih baik saya minum antimo. Eh, salah perhitungan bung... memang mualnya sudah hilang, jalanan juga sudah mulai aman, tapi ternyata jaraknya tidak terlalu jauh. Walhasil saya mengantuk dan sempat tertidur saat penerimaan di rumah Pak Camat Wanukaka! Maap....

KKN DIMULAI
Penerimaan rombongan KKN ditandai dengan salam Sumba, yaitu saling cium hidung. Salam yang sangat unik, lucu tapi menyenangkan.  Setelah itu kami disuguhi sirih pinang, sebagai salam perkenalan adat Sumba dan NTT pada umumnya. Awalnya kami sedikit ragu mencoba sirih pinang, tapi memang harus coba karena sebulan kedepan hidup sirih pinang pasti selalu ada.

Suasana jadi lebih santai lagi saat  minum kopi Sumba yang lezat beraroma jahe dan sedikit cengkeh (katanya khas Waijewa). Juara dan bikin nagih!!

Akhirnya,  Kak Bani, Dosen kami membagi lagi per-2 orang untuk menempati  rumah tinggal bersama keluarga angkat kami di sini.. Jeng jeng...ternyata saya dan Himawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi,  tinggal di  rumah ini, bersama keluarga Pak Camat, Bapak Melkianus Bili (Alm). Acara penerimaan selesai, teman-teman langsung menuju rumah masing-masing.  Saya dan Himawan (Him) juga langsung menuju kamar, beberes dan  tidur siang sebelum lanjut ke keseruan  yang lain ;)

@mahewardhana 

Senin, 25 Februari 2019

DERI KAMBAJAWA, SUMBA TENGAH

Kampung Adat Deri Kambajawa, foto screenshot dari video Dinpar (youtube)
Kampung Adat di Sumba Tengah ini adalah lokasi shooting Ethnic Runaway episode Sumba yang pertama di 2010. Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di pulau Sumba. Lewat kontak teman KKN dan sekaligus teman Asrama dulu, Bapak Adri Umbu Raisi Sabaora,  Kabag Tata Pemerintahan Daerah Sumba Tengah, kami diijinkan shooting di kampung adat Deri Kambajawa, Sumba Tengah. 
Di perjalanan saya keliling nusantara dalam rangka shooting program Ethnic Runaway, saya selalu bercerita apa yang saya pernah saya alami waktu pertama kali datang ke  Sumba (Baca KKN SUMBA 1996 dan cerita lainnya). Bertemu dengan orang-orang Sumba yang memiliki karakter berbeda dari orang kota biasanya, bahkan mengalami sendiri seperti cerita di sinetron.
Adri Umbu Raisi Sabaora, saat di
Jakarta,  awal Februari 2019
Masyarakat dan dinas pariwisata Sumba Tengah antusias membantu kami selama kami tinggal dan shooting di sana. Dari awal saja sudah kelihatan. Waktu kami tim advance yang cuma 3 orang datang di Bandara Tambolaka kami dijemput rombongan banyak mobil!!
Kata orang Sumba ini perlakuan kepada Maramba, atau tamu kehormatan yang benar-benar dilayani. Crew saya terheran-heran, karena biasanya diijinkan shooting dan numpang tinggal di bale-bale saja itu sudah cukup. Sumba is the best!
Kekuatan episode Sumba yang kami angkat dalam program tidak hanya fokus pada tradisi adat yang kuat, unik tetapi juga karakter masyarakatnya. Mereka terlihat  terlihat keras dari luarnya,  tetapi ada keramahan serta kelembutan hati di dalamnya. Kalo ga percaya cobain deh tinggal seminggu aja bareng penduduk di sana. Bisa betah ga mau pulang ntar!
Anggun 'Dundun' ditemani Boku saat survey
Ricky Perdana (Umbu Kambajawa) mengikuti
ritual adat
Para lelaki berkumpul di muka, dan para
 perempuan menunggu di barisan belakang
Bersama Dundun Creative, Wahyu Campers,
 Tim Advance Ethnic Runaway 
Hampir setiap langkah awal dalam ritual adat Sumba dalah selalu memotong hewan, ayam atau babi untuk dilihat hatinya, sebagai pertanda panen akan baik atau ada suatu peringatan akan panen yang kurang baik, atau lainnya. Biasanya jika ada tanda yang kurang baik Rato (tua adat) memimpin ritual bersama masyarakat, memohon maaf dan bertobat supaya hasilnya baik bagi semua.

Untung selama kita shooting selalu berhasil mendapat hasil baik. 

Jenifer dan Mama (foto oleh Anggun)
Ritual injak padi hasil panen, cara manual dan tradisional
sebelum ada mesin panen padi

Ricky agak kaget karena disuruh memandikan kuda di kali
Tim, artis, Ama  dan nasyarakat Deri Kambajawa






Wahyu, Boku, Irvan Manulang






Selain mengangkat ritual, para artis juga melakukan hal yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat Deri Kambajawa, tentu saja ditambah surprise-surprise kecil yang menarik untuk tontonan nanti. Pokoknya shooting  jadi tidak sulit karena saya dan Anggun, creative kami bisa mengangkat cerita yang dekat dengan realita yang ada di sini. Rasanya sama seperti yang pernah saya dan teman-teman KKN alami dulu. 
Full Team
Diantar ke bandara oleh Bp. Adri Umbu Sabaora dan Bapak
Daniel Umbu Sabarua, Kadinpar Sumba Tengah
Di episode ini ada cerita seru, lucu dan juga sedih antara para artis, kedua ortu angkat mereka dan juga masyarakat di sana. Bumbu drama yang melankolis tampak saat perpisahan artis Jennifer Arnelita dan Ricky Perdana dengan masyarakat kampung Deri Kambajawa. Diawali dua orang artis bicara depan kamera, akan berpamitan pulang pada bapa dan mama asuh mereka. Sementara mama sedang bermain congklak, permainan khas perempuan nusantara (Sumba juga punya lho), dan dengan reaksi muka datar mama membalas Jennifer yang pamit mau pulang dengan datar tanpa melihat muka Jennifer. "Iyo, kam siap-siap sudah. Jangan ada barang tertinggal," balas Mama. Jennifer dan Ricky pun bingung melihatnya, salah tingkah. Mereka kembali ke rumah berkemas-kemas.
Saat akan pergi, rencana hanya mama dan bapa saja yang melepas mereka jadi seluruh masyarakat Deri Kambajawa, berkumpul dan berjejer. Inilah pamitan yang sebenarnya, membuat saya teringat yang dulu pernah saya alami di Wanokaka. Bapa dan mama berpesan sebelum benar-benar berpisah, dalam bahasa Anakalang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sambil mendirect camera person menangkap moment perpisahan, saya memperhatikan satu-satu, mulai dari ekspresi artis kami hingga masyarakat. Satu persatu mereka bersalaman, cium hidung ala adat Sumba, hingga saling berpelukan. Ini bukan acting, tetapi drama itu keluar dengan sendirinya!!
Akhirnya sadar, kami semua meneteskan air mata, huff.... sangat berkesan.

Terima kasih banyak atas penerimaan yang baik ini,  kepada yang saya hormati Bapak Umbu Bintang, Bupati Sumba Tengah saat itu, kawan-kawan Sumbaku, Keluarga Adri Sabaora, Uli dan anak2, John 'Jabrik' Waimanama, Sherly Rambu Kareri (terima kasih untuk sarapan dan makanan yang disiapkan),  Alm. Benny (ternyata itu jadi jamuan terakhir kita ya bro), Mager Rambu Sumba (yang hanya sempat ketemu di pinggir jalan menuju hakolah), Rambu Padji Djera, (yang sembunyi dari saya haha),   Bapak Daniel Sabarua, Kepala Dinas Pariwisata dan seluruh pegawai Dinpar yang terlibat, mas Boku yang sudah antar kami kemana-mana, dan semua teman dan masyarakat Anakalang dan Deri Kambajawa, mohon maaf saya tidak bisa sebutkan satu-persatu.
Terakhir, sekali lagi terima kasih kepada masyarakat Deri Kambajawa, kalian luar biasa, sampai sekarang saya tidak lupa. Kiranya Tuhan memberkati!            
@mahewardhana
                                                          


PULANG WANUKAKA (2)

Sawah yang terhampar di sekitar Wanukaka
Teringat kembali waktu KKN dulu teman-teman dari Fakultas Pertanian membantu masyarakat di sana. Sementara saya jadi guru di SMP dan SD di desa hehehe..
Sayang saya ga sempet foto semua karena sudah mulai gelap. Padahal Wanukaka terkenal dengan Pasola di lapangan luasnya yang biasa diadakan festival Pasola setiap bulan Februari sampai Maret, kalo ga salah. O iya, Pasola itu singkatnya adalah acara adat yang menampilkan ketangkasan melempar lembing sambil berkuda, oleh dua kubu seperti 'perang antar kampung'. 

Akhirnya sampailah kami di rumah salah seorang yang dituakan di sini,  kediaman Bapak Boku Haga. Kebetulan rumah ini sedang ramai orang karena ada acara adat. Saya lupa acara apa, tapi sempat bikin saya ragu, untungnya Domi, driver kami menyemangati saya.  
Kediaman Bapak  Boku Haga
Awalnya saya bertanya pada seorang bapak berbadan besar dan berkumis tebal sebelum saya bertemu langsung dengan Bapak Boku Haga. Maafkan saya, ternyata beliau adalah Pak Nico Uli Lay, kepala sekolah di sini. Beliaulah orang yang memberikan kain dan nama Wanukaka kepada saya sebelum pergi meninggalkan desa selepas KKN.
Ya, ada kebiasaan yang dilakukan oleh orang Sumba secara tradisi, bahwa mereka mau memberikan kain sebagai kenang-kenagan sekaligus penghargaan kepada tamunya. Tambah spesial lagi dengan pemberian nama sesuai daerah asal yang kita datangi dan tinggali untuk beberapa waktu. Makanya kita seperti punya keluarga baru.
O iya, nama yang beliau berikan kepada saya adalah LODU KANO, artinya anak matahari. Waktu itu beliau kasih nama Sumba saya dan juga selendang yang ternyata bukan buat saya. Pesan beliau, kain selendang ini tolong diberikan kepada calon istri saat mau menikah nanti. Saya sampaikan amanahnya sudah saya jalankan.. (untung ga sembarangan kasih ke yang lain-lain... eeittt)
Bersama Bapak Nico Uli Lay (tengah) yang kasih nama Lodu Kano

Bersama Bapa dan Mama Boku Haga
Menarik sekaligus membingungkan bagi teman-teman saya yang baru pertama kali ke Sumba. Ya, tradisi itu terulang lagi. Kami ditahan karena memang datang di jam makan malam.  Mereka akan menyiapkan makan malam kami, tradisinya  potong hewan dulu! Untungnya ada crew saya yang muslim (Gina alias Iting), jadi cukup potong ayam saja.. Kalo tidak harus tunggu babi atau anjing dimasak dulu, lama prosesnya.. 
Setelah ayam diolah jadi sup, saya mencoba membantu mama dengan ambil  dan membagikan sup ayam dan nasi kepada teman-teman, maksudnya (memang biar cepat dan ga enak udah ngerepotin). Tiba-tiba Mama bilang, "Ubbu (panggilan sayang anak laki2),  ko punya sup bukan yang ini, nanti."
Tak lama  mangkuk sup dan nasi buat saya datang. Ternyata mangkuk sup saya berisi ati ayam yang dipotong tadi. Sementara teman-teman yang lain mendapat bagian yang lain. 
Wow, saya benar-benar ga menyangka. Domie si penunjuk jalan, mengingatkan saya tentang adat di sini
Saya merasa dihargai sekali diperlakukan seperti ini.  Terima kasih Bapa, Mama sudah terima saya dan teman-teman dengan baik.
                                                        @mahewardhana

PULANG WANUKAKA (1)

Please, take me 'home'
Ga pernah kebayang ternyata saya masih sempat kembali ke sini.  Ini gara-gara tempat tujuan shooting Ethnic Runaway yang kedua meleset dari hasil riset. Waktu dan jadwal penerbangan ke Sabu ga cocok! Diputuskan setelah shooting selesai di Ratenggaro kita harus cari lokasi shooting baru di Sumba.
Driver kami Domie,  coba memberikan usulan lokasi dan sama-sama kepikiran ke Wanukaka.
Domi, penunjuk jalan kami
Maka kami langsung survey ke Wanukaka. Jadi pulang ke kampung istri juga kan, Bro hehehe.. Sebuah kebetulan yang pas!!



Wanukaka adalah awal cerita saya dengan pulau Sumba. Ya, karena inilah tempat saya dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tahun 1996. Di sini kami diterima dengan sangat baik, lebih dari itu kami seperti dianggap anak. Kami di Wanokaka yang dibagi-bagi tempat tinggalnya. Saya dan Himawan tinggal di rumah Bapak Camat saat itu, Bpk Melkianus Bili dan Mama Ina. Uniknya, sifat dan kebiasaan Himawan dianggap sama dengan mama, sedangkan saya dibilang seperti Bapa, bangun agak siang dan harus ada kopi di meja.. Makanya berasa punya keluarga baru di sini... ah terlalu banyak ceritanya, serunya.. Pelan-pelan ceritanya ya, sambil lihat foto2 yang sempat terkumpul.

Tikungan menuju Wanukaka
Membayangkan dulu jalan kaki, dan belum aspal seperti ini 

Dua foto ini adalah jalan dari Waikabubak menuju Wanukaka. Di tahun 1996 waktu itu kendaraan umum masih sangat minim, bahkan pernah kami pulang ke Wanukaka  bergelantungan mobil omprengan dari Waikabubak. Sementara di atas atap mobil babi diikat untuk dibawa ke desa, entah akan dipelihara atau dipotong. Backsoundnya yang tepat saat itu kira-kira,"nguik...nguik." Artikan saja," help me, help me"... ;)
Satu kali pernah juga kami, laki2 semua pulang jalan kaki sejauh setengah perjalanan dari Waikabubak ke Wanukaka. Sempat ga percaya kami pernah lakukan itu, meskipun buat orang sana sih sudah hal biasa.
Andi tetap shooting

Sementara Andi tetap menabung stockshot gambar, saya sempetin narsis sebentar dengan memakai Kapouta di kepala, pemberian bapak angkat saya, Pak Camat di Wanukaka. Memang setiap saya jalan shooting Ethnic Runaway, kapouta ini selalu saya bawa dan pakai.

Narsis tipis...
Akhirnya saya sempat mampir ke salah satu rumah tempat kita berkumpul semasa KKN dulu. Di sana sempat terjadi apa yang saya pernah alami dulu. Sayang saya tidak bersama teman2 KKN dulu. Masih seru dan berkesan.... (to be continued)

Kamis, 21 Februari 2019

KATAGA DANCE, ABSTRACT PORTRAITS






Beberapa foto yang sempat saya buat dalam bentuk abstrak, memainkan warna yang ada dalam elemen tarian ini.
Foto diambil saat acara Malam Pagelaran Seni Budaya Sumba Tengah, Musro, Hotel Borobudur, 15 Feb 2019.
Tarian ditampilkan oleh adik-adik mahasiswa UKSW (PERWASUS) dari Salatiga.
All photos by @mahewardhana

TARI KATAGA dalam hitam putih

Diiringi bunyi tambur dan gong para penari bergerak membentuk formasi barisan, bergoyang ke kanan-kiri sambil mengayunkan parang dan berteriak bersahut-sahutan atau disebut kakalak dalam bahasa Sumba.
Timbul dalam pikiran saya saat melihat lagi tarian ini, seru diawal hingga ke tengah, lalu berubah monoton sampai akhir tarian.
Namun kali ini saya lihat berbeda, adik-adik mahasiswa Perwasus Salatiga menampilkan tari Kataga yang lebih seru dari yang dulu saya pernah lihat. Terasa ada semangat dan sekaligus harapan baru di sana, tidak monoton seperti dulu, bahkan saya punya ide lebih seru lagi untuk tari Kataga ini..boleh dicoba ?? @mahewardhana


Rehearsal
Rehearsal
Rehearsal

Rabu, 20 Februari 2019

REUNI DENGAN SAHABAT-SAHABAT SUMBAKU

UMBU PADA BOLIYORA,
Ketua Komunitas Sumba Tengah Jabodetabek, asli Anakalang, Sumba Tengah.


DR. UMBU RAUTA S.H., M.HUM,
Pengajar di Fakultas Hukum UKSW Salatiga, asli Anakalang, Sumba Tengah

Terlihat ada kemiripan keduanya??
Ya, memang mereka adalah kakak adik kandung yang jadi sahabat sejak kami sama-sama bertemu di Salatiga. Sang kakak, biasa dipanggil Kak Bani jadi Dosen Pembimbing saat KKN di Sumba Barat tahun 1996 (or 95?), dan akhirnya sering jalan bareng teman-teman KKN lainnya. Kadang kita juga diskusi tapi bukan tentang hukum atau tata negara juga, paling seputar kegalauan2 ga jelas itu hahaha. Sorry saya bukan anak Fak. Hukum beda jurusan kita hahaha..

Sedangkan Yanto (panggilan Umbu Pada Boliyora) adiknya, memang kami sama-sama tinggal di Asrama Mahasiswa, main basket bareng, senang susah bareng, sampe-sampe pernah diajak bareng ketemu Kak Bani buat kasih supportnya, maklum waktu itu tanggal tua, kiriman belum ada hahaha .. makasih Kak Bani ;) 

Makanya senang sekali beberapa waktu lalu kita bisa ketemu lagi. Seperti reuni kecil dan masih tentang Sumba dan langkah kecil untuk mempromosikan Sumba Tengah malam itu.


Rambu Rose, anaknya Yanto tampak lelah dan tertidur di tempat acara Malam Pagelaran Seni dan Budaya Sumba Tengah. 
Gapapa Yabbu, teruskan tidurmu dan mimpi indahmu.. 

Kak Bani, sepertinya besok kita ketemu lagi dan lanjut diskusi nih..
dan saya masih punya beberapa cerita tentang Sumba yang coba saya tulis

@mahewardhana 



PROMOSI SUMBA TENGAH


Geliat Promosi Sumba Tengah di Jakarta

Please click this link below:
https://fortunaexplore.com/2019/02/18/eksotisme-sumba-tengah-hipnotis-warga-jakarta/?fbclid=IwAR30Wjq_yKcDsbLoUChOJ-BpsH-9I-LPDHuY3O0160ITwRB8FVdWkX5zmXE





Sekilas ini sekedar membantu teman-teman dari Sumba, tapi saya sendiri merasa ada kekuatan yang besar yang menarik saya setiap diajak untuk terlibat di acara, sekecil apapun. Memang ada cerita di masa lalu sih yang mungkin jadi alasan saya sampai susah menolaknya.  Lain waktu saya cerita ya sekalian sedikit throw back time hehehe...