![]() |
| Sawah yang terhampar di sekitar Wanukaka |
Teringat kembali waktu KKN dulu teman-teman dari Fakultas Pertanian membantu masyarakat di sana. Sementara saya jadi guru di SMP dan SD di desa hehehe..
Sayang saya ga sempet foto semua karena sudah mulai gelap. Padahal Wanukaka terkenal dengan Pasola di lapangan luasnya yang biasa diadakan festival Pasola setiap bulan Februari sampai Maret, kalo ga salah. O iya, Pasola itu singkatnya adalah acara adat yang menampilkan ketangkasan melempar lembing sambil berkuda, oleh dua kubu seperti 'perang antar kampung'.
Akhirnya sampailah kami di rumah salah seorang yang dituakan di sini, kediaman Bapak Boku Haga. Kebetulan rumah ini sedang ramai orang karena ada acara adat. Saya lupa acara apa, tapi sempat bikin saya ragu, untungnya Domi, driver kami menyemangati saya.
![]() |
| Kediaman Bapak Boku Haga |
Awalnya saya bertanya pada seorang bapak berbadan besar dan berkumis tebal sebelum saya bertemu langsung dengan Bapak Boku Haga. Maafkan saya, ternyata beliau adalah Pak Nico Uli Lay, kepala sekolah di sini. Beliaulah orang yang memberikan kain dan nama Wanukaka kepada saya sebelum pergi meninggalkan desa selepas KKN.
Ya, ada kebiasaan yang dilakukan oleh orang Sumba secara tradisi, bahwa mereka mau memberikan kain sebagai kenang-kenagan sekaligus penghargaan kepada tamunya. Tambah spesial lagi dengan pemberian nama sesuai daerah asal yang kita datangi dan tinggali untuk beberapa waktu. Makanya kita seperti punya keluarga baru.
O iya, nama yang beliau berikan kepada saya adalah LODU KANO, artinya anak matahari. Waktu itu beliau kasih nama Sumba saya dan juga selendang yang ternyata bukan buat saya. Pesan beliau, kain selendang ini tolong diberikan kepada calon istri saat mau menikah nanti. Saya sampaikan amanahnya sudah saya jalankan.. (untung ga sembarangan kasih ke yang lain-lain... eeittt)
![]() |
| Bersama Bapak Nico Uli Lay (tengah) yang kasih nama Lodu Kano |
![]() |
| Bersama Bapa dan Mama Boku Haga |
Menarik sekaligus membingungkan bagi teman-teman saya yang baru pertama kali ke Sumba. Ya, tradisi itu terulang lagi. Kami ditahan karena memang datang di jam makan malam. Mereka akan menyiapkan makan malam kami, tradisinya potong hewan dulu! Untungnya ada crew saya yang muslim (Gina alias Iting), jadi cukup potong ayam saja.. Kalo tidak harus tunggu babi atau anjing dimasak dulu, lama prosesnya..
Setelah ayam diolah jadi sup, saya mencoba membantu mama dengan ambil dan membagikan sup ayam dan nasi kepada teman-teman, maksudnya (memang biar cepat dan ga enak udah ngerepotin). Tiba-tiba Mama bilang, "Ubbu (panggilan sayang anak laki2), ko punya sup bukan yang ini, nanti."
Tak lama mangkuk sup dan nasi buat saya datang. Ternyata mangkuk sup saya berisi ati ayam yang dipotong tadi. Sementara teman-teman yang lain mendapat bagian yang lain.
Wow, saya benar-benar ga menyangka. Domie si penunjuk jalan, mengingatkan saya tentang adat di sini
Saya merasa dihargai sekali diperlakukan seperti ini. Terima kasih Bapa, Mama sudah terima saya dan teman-teman dengan baik.
Saya merasa dihargai sekali diperlakukan seperti ini. Terima kasih Bapa, Mama sudah terima saya dan teman-teman dengan baik.



