Senin, 25 Februari 2019

DERI KAMBAJAWA, SUMBA TENGAH

Kampung Adat Deri Kambajawa, foto screenshot dari video Dinpar (youtube)
Kampung Adat di Sumba Tengah ini adalah lokasi shooting Ethnic Runaway episode Sumba yang pertama di 2010. Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di pulau Sumba. Lewat kontak teman KKN dan sekaligus teman Asrama dulu, Bapak Adri Umbu Raisi Sabaora,  Kabag Tata Pemerintahan Daerah Sumba Tengah, kami diijinkan shooting di kampung adat Deri Kambajawa, Sumba Tengah. 
Di perjalanan saya keliling nusantara dalam rangka shooting program Ethnic Runaway, saya selalu bercerita apa yang saya pernah saya alami waktu pertama kali datang ke  Sumba (Baca KKN SUMBA 1996 dan cerita lainnya). Bertemu dengan orang-orang Sumba yang memiliki karakter berbeda dari orang kota biasanya, bahkan mengalami sendiri seperti cerita di sinetron.
Adri Umbu Raisi Sabaora, saat di
Jakarta,  awal Februari 2019
Masyarakat dan dinas pariwisata Sumba Tengah antusias membantu kami selama kami tinggal dan shooting di sana. Dari awal saja sudah kelihatan. Waktu kami tim advance yang cuma 3 orang datang di Bandara Tambolaka kami dijemput rombongan banyak mobil!!
Kata orang Sumba ini perlakuan kepada Maramba, atau tamu kehormatan yang benar-benar dilayani. Crew saya terheran-heran, karena biasanya diijinkan shooting dan numpang tinggal di bale-bale saja itu sudah cukup. Sumba is the best!
Kekuatan episode Sumba yang kami angkat dalam program tidak hanya fokus pada tradisi adat yang kuat, unik tetapi juga karakter masyarakatnya. Mereka terlihat  terlihat keras dari luarnya,  tetapi ada keramahan serta kelembutan hati di dalamnya. Kalo ga percaya cobain deh tinggal seminggu aja bareng penduduk di sana. Bisa betah ga mau pulang ntar!
Anggun 'Dundun' ditemani Boku saat survey
Ricky Perdana (Umbu Kambajawa) mengikuti
ritual adat
Para lelaki berkumpul di muka, dan para
 perempuan menunggu di barisan belakang
Bersama Dundun Creative, Wahyu Campers,
 Tim Advance Ethnic Runaway 
Hampir setiap langkah awal dalam ritual adat Sumba dalah selalu memotong hewan, ayam atau babi untuk dilihat hatinya, sebagai pertanda panen akan baik atau ada suatu peringatan akan panen yang kurang baik, atau lainnya. Biasanya jika ada tanda yang kurang baik Rato (tua adat) memimpin ritual bersama masyarakat, memohon maaf dan bertobat supaya hasilnya baik bagi semua.

Untung selama kita shooting selalu berhasil mendapat hasil baik. 

Jenifer dan Mama (foto oleh Anggun)
Ritual injak padi hasil panen, cara manual dan tradisional
sebelum ada mesin panen padi

Ricky agak kaget karena disuruh memandikan kuda di kali
Tim, artis, Ama  dan nasyarakat Deri Kambajawa






Wahyu, Boku, Irvan Manulang






Selain mengangkat ritual, para artis juga melakukan hal yang dilakukan sehari-hari oleh masyarakat Deri Kambajawa, tentu saja ditambah surprise-surprise kecil yang menarik untuk tontonan nanti. Pokoknya shooting  jadi tidak sulit karena saya dan Anggun, creative kami bisa mengangkat cerita yang dekat dengan realita yang ada di sini. Rasanya sama seperti yang pernah saya dan teman-teman KKN alami dulu. 
Full Team
Diantar ke bandara oleh Bp. Adri Umbu Sabaora dan Bapak
Daniel Umbu Sabarua, Kadinpar Sumba Tengah
Di episode ini ada cerita seru, lucu dan juga sedih antara para artis, kedua ortu angkat mereka dan juga masyarakat di sana. Bumbu drama yang melankolis tampak saat perpisahan artis Jennifer Arnelita dan Ricky Perdana dengan masyarakat kampung Deri Kambajawa. Diawali dua orang artis bicara depan kamera, akan berpamitan pulang pada bapa dan mama asuh mereka. Sementara mama sedang bermain congklak, permainan khas perempuan nusantara (Sumba juga punya lho), dan dengan reaksi muka datar mama membalas Jennifer yang pamit mau pulang dengan datar tanpa melihat muka Jennifer. "Iyo, kam siap-siap sudah. Jangan ada barang tertinggal," balas Mama. Jennifer dan Ricky pun bingung melihatnya, salah tingkah. Mereka kembali ke rumah berkemas-kemas.
Saat akan pergi, rencana hanya mama dan bapa saja yang melepas mereka jadi seluruh masyarakat Deri Kambajawa, berkumpul dan berjejer. Inilah pamitan yang sebenarnya, membuat saya teringat yang dulu pernah saya alami di Wanokaka. Bapa dan mama berpesan sebelum benar-benar berpisah, dalam bahasa Anakalang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sambil mendirect camera person menangkap moment perpisahan, saya memperhatikan satu-satu, mulai dari ekspresi artis kami hingga masyarakat. Satu persatu mereka bersalaman, cium hidung ala adat Sumba, hingga saling berpelukan. Ini bukan acting, tetapi drama itu keluar dengan sendirinya!!
Akhirnya sadar, kami semua meneteskan air mata, huff.... sangat berkesan.

Terima kasih banyak atas penerimaan yang baik ini,  kepada yang saya hormati Bapak Umbu Bintang, Bupati Sumba Tengah saat itu, kawan-kawan Sumbaku, Keluarga Adri Sabaora, Uli dan anak2, John 'Jabrik' Waimanama, Sherly Rambu Kareri (terima kasih untuk sarapan dan makanan yang disiapkan),  Alm. Benny (ternyata itu jadi jamuan terakhir kita ya bro), Mager Rambu Sumba (yang hanya sempat ketemu di pinggir jalan menuju hakolah), Rambu Padji Djera, (yang sembunyi dari saya haha),   Bapak Daniel Sabarua, Kepala Dinas Pariwisata dan seluruh pegawai Dinpar yang terlibat, mas Boku yang sudah antar kami kemana-mana, dan semua teman dan masyarakat Anakalang dan Deri Kambajawa, mohon maaf saya tidak bisa sebutkan satu-persatu.
Terakhir, sekali lagi terima kasih kepada masyarakat Deri Kambajawa, kalian luar biasa, sampai sekarang saya tidak lupa. Kiranya Tuhan memberkati!            
@mahewardhana