Minggu, 17 Maret 2019

SUKU KABOLA (Continued)

Heyele, rumah asli suku Kabola setelah memutuskan dimana mereka menetap. Terbuat dari atap alang, berbentuk segitiga, di bagian dalam atasnya dijadikan tempat menyimpan bahan baku makanan dan perkakas lainnya. Di bagian bawah bale-bale bambu jadi tempat suku ini berteduh. 


Pakaian asli suku Kabola ini terbuat dari kayu yang tumbuh di hutan sekitar lokasi kami shooting. Prosesnya sangat sederhana, dimulai dari mengupas kulit kayu dari batang pohonnya, lalu ditumbuk supaya tidak kasar lagi. Kemudian kulit tersebut dibiarkan dijemur sambil diangin-anginkan, hingga kering dan terakhir disambung sesuai ukuran dan bentuk baju dengan cara dijahit.  

Proses melepas kulit dari batang pohon

Proses penumbukan kulit kayu, disaksikan artis pria

Eru, Kreatif saat itu 
Ade, PA saat itu













Seorang Ama, dengan gong dan parang.
Melihat dari seberang artis pria sedang melihat pakaian kulit
kayuvyang sudah jadi dan siap dipakai 

Mama-mama dan pakaian kulit kayu 
Poppy Bunga saat baru datang diminta membantu mama
menyiapkan makan malam, karena sore sudah hampir habis 

Gugup saat harus membersihkan bekicot yang
dikumpulkan di sekitar Heyele sebelum dibumbu dan dimasak
Daday dan Tono, campers saat istirahat
Poppy Bunga bercengkerama dengan mama Bepeng (kanan)

Yama Carlos berpakaian adart dan mencoba
memukul tambur

Yama Carlos, Asisten Artis, Poppy Bunga 

Poppy dan kaum ibu mengumpulkan kenari lalu toki kenari
Kaum ibu memecah buah kenari di atas batu
Tono sedang merekam sesuatu diperhatikan dua warga suku

Senyum manis bocah pulau Alor 

Bersama Ama dan Mama angkat artis

Crew, Artis dan masyarakat berfoto bersama
Perjalanan dan pengalaman belajar cara hidup suku Kabola memang harus berakhir. Untungnya kami tidak lupa mengabadikan momen tersebut. Di sinilah kami sadar bahwa meski beberapa hari saja muncul rasa kebersamaan bersama mereka hingga semua merasa sedih saat harus berpisah. Dibalik kerasnya wajah mereka, ternyata tersimpan kelembutan hati. Terima kasih suku Kabola.
@mahewardhana

Jumat, 15 Maret 2019

PULAU ALOR: SUKU KABOLA

Pulau Alor terletak di Nusa Tenggara Timur. Saya masih ingat bagaimana indahnya pemandangan sebelum kita mendarat di Bandara Kalabahi. Ngeri-ngeri sedap rasanya. Tapi inilah Indonesia yang kaya sekali akan alamnya, suku bangsanya.  Mimpi dulu sekarang jadi nyata!
Alor adalah lokasi shooting untuk episode pertama program Ethnic Runaway yang saya gawangi. Dulunya bernama  Primitive Runaway, namun karena kata Primitive memiliki konotasi yang negatif maka nantinya diganti menjadi Ethnic. Dari hasil survey di dua lokasi berdasarkan suku yang berbeda, maka saya memutuskan untuk shooting dengan dua suku yang mewakili Alor.

SURVEY 1:  SUKU KABOLA
Suku yang pertama adalah suku Kabola yang kini berdiam di desa Kopidil, Kecamatan Alor Barat Laut. Suku ini aslinya hidup di dalam hutan. Cara hidup mereka dulunya nomaden, layaknya suku-suku yang tinggal di dalam hutan. Mereka mengandalkan berburu dan memanfaatkan hasil hutan. Pakaian asli suku ini pun terbuat dari kulit kayu pohon. Untung mereka masih menyimpannya. Untung ke sininya sudah banyak perubahan, minimal mereka sudah mau menetap di perkampungan, meskipun harus naik ke atas bukit.
Tim Survey: Bang Aziz Chan, Mahe dan Daday Campers

Foto bersama warga di hari pertama survey
Sebelum shooting dimulai kami dan beberapa orang dari suku Kabola menyiapkan properti dan lokasi sesuai item-item sosial budaya yang ingin kami angkat. Termasuk membuat busur panah dari bahan alam yang ada, bambu. Tentu saja mereka menyiapkan pakaian dari kulit kayu baik yang lama maupun bagaimana proses pembuatannya. 
Membuat tali busur panah dari bambu



Persiapan berburu sccara tradisional

Kaum ibu suku Kabola, dengan pakaian mereka
yang terbuat dari kulit kayu
Hari sudah sore, sebentar lagi gelap. Besok warga dan juga dua orang artis dari Jakarta akan bersama-sama menyelami kehidupan secara sehari-hari di masa lalu dan juga tradisi atau kebiasaan mereka, suku Kabola. Siapa artisnya? 
Iringan awan indah di pulau Alor

to be continued ...
@mahewardhana

Rabu, 13 Maret 2019

MELOMPAT LEBIH TINGGI, UR




Proses pemilihan Hakim Mahkamah Konstitusi RI baru saja selesai. Akhirnya terpilih kembali dua petahana, hari selasa kemarin, 12 Maret 2019). Salah satu calon Dr. Umbu Rauta SH., M.Hum., putra daerah asal Anakalang, Sumba Tengah tidak jadi terpilih.


Pagi-pagi saya sempat menengok berita online Tempo.Co beberapa jam menjelang pengumuman. Langsung muncul foto beliau sebelum ulasan beritanya, membuat saya pede bahwa peluang beliau untuk lolos sangat kuat.


Tentunya banyak pihak yang kecewa beliau tidak jadi terpilih, hingga banyak pendapat dan pandangan muncul dari para praktisi, pemerhati, pakar Hukum Tata Negara hingga politisi. Biarkan mereka yang bicara, saya bukan ahlinya.



Bersyukur bisa menemani beliau selama di Jakarta hingga hari pengumuman kemarin.  Saya pun setuju dengan diskusi kita beberapa malam itu, tetap yakin dan percaya bahwa kakak sudah di trek yang benar.

Bagaimana pun proses demi proses sudah dilewati dengan sangat baik. Mantapkan saja langkah yang ada di depan mata. 


Mungkin Tuhan mau kakak ikuti proses ini dulu, sebagai bagian dari proses pematangan diri yang hakiki!

Selamat Kak Bani, kami tunggu lompatan selanjutnya.
We are proud of you!!



                                                               All photos taken in Jakarta, 11-12 Maret 2012 by @mahewardhana