Flashback : Bandara Tambolaka, 2012
"Maaf apa betul bapak Yanis Lubalu?" tanya saya kepada sosok yang tidak asing di bandara Tambolaka.
"Ya, saya sendiri. Siapa ya?,'" jawab beliau sambil berusaha mengingat siapa saya. Ternyata benar. Beliau dulunya menjadi Dosen Pendamping KKN saya, dari BAPEDA Sumba Barat. Saya menyebut nama saya dan beliau langsung ingat. Kami pun berpelukan dan tentu saja, cium Sumba. Hari itu beliau akan berangkat ke Kupang. Senang sekali bisa bertemu lagi. Kita pun saling bertukar nomor telepon dan selesai shooting di Ratenggaro saya akan kontak beliau. Karena beliau juga akhirnya saya mendapat kepastian dimana ayah angkat saya, Bapak Melkianus Bili, SM berada.
Dulu beberapa kali saya coba cari tahu tapi malah macam-macam beritanya. Ada yang bilang sudah pindah ke Waijewa, ada yang bilang di Waikabubak.
Malahan ada yang bilang sudah meninggal... Info terbaru yang saya dapat adalah Bapak bekerja di Dinas Pariwisata Sumba Barat.
"Ya, saya sendiri. Siapa ya?,'" jawab beliau sambil berusaha mengingat siapa saya. Ternyata benar. Beliau dulunya menjadi Dosen Pendamping KKN saya, dari BAPEDA Sumba Barat. Saya menyebut nama saya dan beliau langsung ingat. Kami pun berpelukan dan tentu saja, cium Sumba. Hari itu beliau akan berangkat ke Kupang. Senang sekali bisa bertemu lagi. Kita pun saling bertukar nomor telepon dan selesai shooting di Ratenggaro saya akan kontak beliau. Karena beliau juga akhirnya saya mendapat kepastian dimana ayah angkat saya, Bapak Melkianus Bili, SM berada.
![]() |
| Bersama Bp. Yanis Lubalu dan dua orang anaknya, Tambolaka, 2012 |
Malahan ada yang bilang sudah meninggal... Info terbaru yang saya dapat adalah Bapak bekerja di Dinas Pariwisata Sumba Barat.
Pergeseran posisi terjadi setelah pemekaran daerah di 2007.
Setelah dari Wanokaka, kami bermalam di sebuah penginapan di Waikabubak (O iya, terima kasih Medi a.k.a Mager Rambu Sumba dan Nona Toko, hujan-hujan kam dua su datang..) Keesokan harinya menjelang jam istirahat saya ke kantor dinas pariwisata di Waikabubak. Betul bapak kerja di situ, tapi sayang beliau sedang ijin pulang ke rumah! Perasaan saya langsung senang dan deg-degan. Tapi kenapa pulang? Semoga bukan karena sedang kumat malarianya?
Setelah dari Wanokaka, kami bermalam di sebuah penginapan di Waikabubak (O iya, terima kasih Medi a.k.a Mager Rambu Sumba dan Nona Toko, hujan-hujan kam dua su datang..) Keesokan harinya menjelang jam istirahat saya ke kantor dinas pariwisata di Waikabubak. Betul bapak kerja di situ, tapi sayang beliau sedang ijin pulang ke rumah! Perasaan saya langsung senang dan deg-degan. Tapi kenapa pulang? Semoga bukan karena sedang kumat malarianya?
Saya putuskan langsung ke rumahnya, di dekat SMAN1 Waikabubak, ada warung kecil di samping rumahnya. Sialnya, saya ga punya apa-apa buat saya kasih. Cuma ada topi dan kaos-kaos Trans TV. Ya sudahlah, yang penting ketemu dulu.
Sampai di depan warungnya, saya coba intip ke dalam dan permisi bertanya. Saya yakin saya berbicara dengan mama saat itu. Sengaja saja saya coba bantu mama untuk mengingat. Saya bilang saya dari Jakarta, dia bingung. Tapi begitu kata KKN dan Wanokaka disebut langsung kaget dan ingat. Perasaan seperti bercampur, antara rindu, senang, sampai takut pun saya rasakan.
Intinya, saya berhasil ketemu dengan Bapa, Mama, satu anak dan cucunya di sini. Terima kasih Tuhan kami boleh habiskan beberapa waktu untuk mengobrol sambil minum kopi seperti dulu lagi.
Saat saya ijin pergi, lagi-lagi Bapa dan Mama kasih kain tenun ikat Sumba sambil bilang,"kain ini untuk cucu, dari Opa Oma di Sumba." Saya pun mohon maaf hanya bisa kasih souvenir kaos, jaket dan topi kantor.
Intinya, saya berhasil ketemu dengan Bapa, Mama, satu anak dan cucunya di sini. Terima kasih Tuhan kami boleh habiskan beberapa waktu untuk mengobrol sambil minum kopi seperti dulu lagi.
Saat saya ijin pergi, lagi-lagi Bapa dan Mama kasih kain tenun ikat Sumba sambil bilang,"kain ini untuk cucu, dari Opa Oma di Sumba." Saya pun mohon maaf hanya bisa kasih souvenir kaos, jaket dan topi kantor.
![]() |
| Saya bersama keluarga Melkianus Bili, SM |
Setelah pertemuan itu kami beberapa kali berkirim kabar via SMS. Namun karena saya sedang sibuk-sibuknya keliling nusantara, ke tempat terpencil pula, jadi susah dihubungi. Sayang, kami pun kembali putus kontak.
Terakhir tahun 2017 saya dikenalkan dengan Bapak dan ibu Bupati Sumba Barat Daya saat itu, Bapak Markus Tallu dan istri,Ibu Ratu Wulla di Jakarta. Bapak dan Ibu Bupati tanya, bagaimana ceritanya saya bisa dekat sekali dengan teman-teman Sumba di Jakarta. Saya cerita tentang saya dan keluarga ini. Kagetlah saya ketika Ibu Ratu Wulla bilang bahwa beliau adalah sepupu Bapa Camat. Beliau juga yang kasih tau kalo bapak sudah meninggal dunia, dan mama sepertinya sudah tinggal di Tana Righu atau Waijewa.
YA Tuhan...
Bapa, Mama dan juga adik-adik, maafkan saya ..
@mahewardhana/RK
| Ibu Ratu Wulla (duduk), CFD Jakarta, 2017 |

