Sabtu, 02 Maret 2019

PLESIR KE TANA RIGHU

Bapa Melkianus Bili, Camat Wanukaka asli dari Tana Righu. Beberapa kali Bapa berencana untuk membawa kami ke kampungnya di Tanarighu.  Beliau ingin kami ketemu dengan Tamo Ama, kakek di Tana Righu. Akhirnya ada waktu yang tepat untuk pergi.

18 Agustus 1996
Himawan, saya dan teman-teman KKN berangkat semua ke Tana Righu. Enaknya KKN di Sumba itu ya begini, bisa ngebolang terus.
Sampai di Tana Righu kami diterima dengan sangat baik oleh keluarga. Mulai dari sirih pinang, lalu disuguhi kopi asli Tanarighu, yang ditumbuk sendiri. Nikmat banget, ada campuran jahe dan sedikit cengkeh. Saya langsung pesan sebungkus kopi untuk saya bawa pulang hehehe
Sampai di sana hari sudah sore dan menjelang malam. Saya dan Himawan bergantian berfoto bersama kakek  lengkap dengan kain dan parang. Sepertinya saya disuruh memanggil beliau Tamo Ama, waktu itu saya belum tau maksudnya.
Selanjutnya kami semua menunggu makan malam dulu sebelum pulang ke Wanukaka. Babi sudah disiapkan. Saya yang lagi berkumpul bersama teman-teman, dipanggil Bapa. Saya diminta untuk menusuk babi. Wah, saya belum pernah dan waktu itu saya sungguh tidak tau apa maksudnya. Kenapa harus saya?
Dengan hormat saya menolak karena takut salah menusuknya. Bapa maklum, pikirnya, ini orang kota yang ga pernah potong hewan sendiri, apalagi tusuk babi. Tradisi tusuk babi di Sumba adalah dengan menusukkan ujung parang  tepat di jantungnya. Setelah babi itu dibersihkan dengan cara dibakar, dagingnya dibagi-bagi dan siap untuk diolah. Sebagian daging dipotong untuk dibuat sup, dan ada sebagian lagi untuk langsung kami bakar dan makan. 
Sambil kasih parang Bapa bilang,"Harus anak saya yang potong. Habis itu kau  bagikan ke teman-teman sebelum dibakar." Saya potong daging yang masih besar itu untuk dibagi. Tetep aja saya salah motongnya. Potongannya jangan  terlalu kecil, kata Bapa. Hehehe maklum Pak, saya belum tahu. Akhirnya saya bisa memotong dan membagi daging buat teman-teman. Kita makan malam juga.  
Belakangan di perjalanan pulang saya baru tau bahwa ini mereka lakukan karena menganggap kami anak-anaknya, saya dan Himawan spesial. Gosipnya, kami hampir ditawarin untuk tetap tinggal di sini. Urus kuda dan sawah juga. Wah...
@mahewardhana