24 Agustus 1996, siang hari, menuju Waikabubak
Kami semua sudah berkumpul di rumah Elly dan Harry Cornel di atas 'lembah' Wanukaka. Semua barang kami pun telah siap. Hanya saja kami harus menunggu mobil datang untuk mengantar kami ke Waikabubak. Di bawah ini screenshot komentar Elly, hehehe masih ingat ternyata.
Intinya gagal lagi, mobil datang kami sudah keburu seger lagi karena hilang pengaruh obatnya. Saya lupa tetap muntah atau tidak dalam perjalanan ke Waikabubak.
Lapangan bola Waikabubak, sore hari
Pertandingan sepak bola antara tim sepak bola Wanukaka melawan kecamatan lain sudah dimulai. Beberapa mahasiswa ikut bergabung membela Wanukaka. Dari kejauhan tampak mama Ina, istri Pak Camat memanggil-manggil dari tribun penonton. Ternyata mereka sudah ada menonton sepak bola. Sementara saya punya Bapa berdiri di pinggir lapangan.
Lapangan bola Waikabubak, sore hari
Pertandingan sepak bola antara tim sepak bola Wanukaka melawan kecamatan lain sudah dimulai. Beberapa mahasiswa ikut bergabung membela Wanukaka. Dari kejauhan tampak mama Ina, istri Pak Camat memanggil-manggil dari tribun penonton. Ternyata mereka sudah ada menonton sepak bola. Sementara saya punya Bapa berdiri di pinggir lapangan.
Saya duduk sebelah Mama. Saya ingat ada Felix dan juga Jackie, anak mereka yang masih kecil-kecil. Mama akhirnya cerita apa yang sebenarnya terjadi setelah kami pergi tadi siang.
Saya ga menyangka. Bapa menangis meraung keras setelah kami pergi. Memang beliau tidak mau menunjukkan kesedihannya. Saya juga cerita bahwa kami sebenarnya sudah menangis dari rumah paling ujung. Tapi saya bisa tahan waktu pamitan di rumah. Mama cuma bilang,"kam dua sama saja." Saya hanya meringis. Sesekali saya melihat Bapa yang masih di pinggir lapangan.
Tiba-tiba mama tanya,"Ubbu, besok pulang ko su ada ongkos?"
"Ada kok ma. Tir usah kuatir. Mo beli apa juga nanti di kapal? Su ada semua kok,"jawab saya dengan logat Sumba yang terdengar aneh. Saya pamit mau ke pinggir lapangan, mau ketemu Bapa.
![]() |
| Lapangan Sepak Bola Manda Elu, Waikabubak, 2016 |
Di pinggir lapangan Bapa menyaksikan pertandingan dengan. Bapa tau saya sudah berdiri di samping, Bapa menoleh dan mengangguk. Matanya merah, benar yang Mama cerita barusan. Saya mencoba memulai pembicaraan, dengan menawarkan rokok. Beliau menolak dan kembali diam. Saya lihat Felix dan Jackie berlarian sendiri di pinggir lapangan. Pertandingan jadi seperti tidak menarik buat saya. Bapa tetap diam, saya mati gaya.
Ga lama kemudian, dari belakang ada yang mengambil tangan kiri saya, lalu menyatukan tangan kanan bapaknya. Entah dapat ide dari mana si Jackie kecil ini.. Tangan kami bergandengan. Mungkin yang ada dalam pikiran anak kecil ini ingin bapaknya dan saya berbaikan, jangan berantem. Astaga, ini seperti drama yang benar-benar nyata!
Sempat kami saling lihat sebelum melepaskan tangan.
Bapa tetap berdiri, kembali menonton pertandingan.
Saya pamit dan pergi.
Sempat kami saling lihat sebelum melepaskan tangan.
Bapa tetap berdiri, kembali menonton pertandingan.
Saya pamit dan pergi.
Terima kasih Felix Oscar Bili dan Jacky Yeudan Bili,
Dulu kalian ga bisa diam, selalu lari ke sana kemari
Tuhan memberkati, RK
Tuhan memberkati, RK

