Perpisahan paling berkesan sekalipun, tetap saja terasa menyesakkan. Saya juga yakin kalo teman-teman lainnya juga ingin punya sesuatu yang indah untuk dikenang. Paling tidak malam terakhir bersama keluarga Wanukaka yang istimewa. @mahewardhana
23 Agustus 1996Sepenggal cerita saya dan Himawan, malam sebelum kami pergi dari Wanukaka.
Kami pulang dari Waikabubak. Siang tadi secara resmi Bapak Bupati melepas kami, mahasiswa KKN yang telah selesai bertugas. Hari ini kami pulang ke desa menghabiskan hari terakhir kami di desa, sekalian berpamitan satu sama lain. Rapat KKN terakhir untuk menyiapkan teknis keberangkatan besok siang sudah selesai. Malam ini saya dan Himawan pulang untuk beberes barang-barang pribadi kami. Ya, harus diatur ulang karena banyak sekali oleh-oleh kain yang kami dapat.
Malam itu kami makan malam bersama di rumah Bapa Camat. Mama sempat bilang tadi siang akan potong ayam buat kita makan malam bersama. Selesai makan malam Bapa minta waktu untuk berbicara, sebelum pergi tidur. Bapa menyampaikan pesannya dalam bahasa Indonesia yang terdengar baku sekali (mungkin karena bawaan Camat)
"Besok kalian akan pergi meninggalkan kami, pulang ke Jawa. Sebenarnya hati kita tidak berpisah, hanya badan saja. Mahendra dan Himawan, tolong besok jangan menangis waktu pergi meninggalkan rumah ini. Kita belum berpisah."
Hening...tapi terasa seperti ada emosi yang tertahan akibat pesan Bapa tadi. Kami cuma bisa mengiyakan dan minta maaf jika selama kami di sini merepotkan dan juga bikin salah. Tiba-tiba dari arah kamar Ina dan adik perempuan datang. Saya lihat mereka berjalan jongkok, sambil membawa kain tebal di tangannya. Satu persatu ke depan saya dan Himawan. Astaga, surprise apalagi di malam terakhir?
Bapa melanjutkan, bahwa kain ini adalah tanda mata dari keluarga. Saya lihat kain putih yang saya terima itu bagus sekali, saya tau itu mahal sekali. Setelah itu Bapa memberikan nama Sumba dari Tana Righu kepada kami berdua. Ndapa Doda adalah nama yang diberikan untuk Himawan. Namun pada saat Bapa akan menyebutkan nama untuk saya, saya ijin hanya diberitahukan inisialnya saja. Saya minta nama itu ditulis di kertas yang akan saya buka saat nanti saya sudah di kapal, tepat di hari ulang tahun saya. Bapa setuju, dan inisial nama saya adalah RK.
Di saat itu juga saya mohon ijin sama bapa untuk boleh memilih kain yang akan saya bawa. Saya lebih memilih kain yang dari hari pertama diberikan kepada saya untuk saya pakai selama di sini, yang warna hitam. Alasannya saya bilang saya sudah menyatu sama bau dan rasanya kain ini, beda jika kain baru yang belum ada kenangannya. Bapa pun setuju. Terima kasih banyak Bapa, Mama, adik2.
Gak lama kemudian Om Endi yang campuran Sumba-Purwokerto ikut bergabung di rumah. Jadi saya kasih tau. Alasan kenapa saya sering bangun lebih siang daripada Him, karena hampir tiap malam Bapa, Om Endi dan saya minum bir sebelum tidur. Hahaha...
Botol bir dibuka, tiga gelas disediakan seperti biasa, Him hanya minum sedikit lalu masuk tidur. Sedangkan kami masih bercerita tentang apa yang akan kami tinggalkan di sini, rencana-rencana ke depan, termasuk juga rencana bapa yang akan berangkat dinas ke Waingapu. Semoga masih bisa ketemu di sana.
Sudah masuk hari baru, pukul 02:30
Inilah 'perjamuan terakhir' kami bertiga. Botol-botol bir sudah kosong, waktunya kita tidur. Terakhir kali, Om Endi memberikan saya sebuah parang Sumba. Menjelang tidur sempat berdoa, semoga hari ini kami semua kuat menghadapi perpisahan. Tanpa menangis...?