Jumat, 01 Maret 2019

DARI GURU MENDADAK JADI DOKTER


Udara masih dingin pagi ini. Senang sekali bangun pagi sudah menunggu kopi dan pisang goreng di meja. Seperti biasa  Mama dibantu Himawan pagi-pagi sudah di kebun, siram tanaman, petik tomat dan cabe, lalu menyiapkan sarapan. Menu sederhana tapi sehat sekali. Nasi merah, lauk ayam ditambah sayuran segar plus sambal mentah. Bagi tugas kita ya Him, kamu nemenin mama ke kebun, saya nemenin bapa minum kopi di rumah hehehe
Sayangnya kenikmatan hari ini sedikit berkurang, gara-gara lidah dan tenggorokan saya sakit. Ini pasti akibat  belum pintar makan sirih pinang dan ditambah lagi saya sempat mencicipi pinaraci yang rasanya seperti kebakaran itu. Katanya kalau kita siram minuman itu dekat api, maka api akan menyambar seperti bensin. Ampunn deh..

JADI GURU BAHASA INGGRIS
Oke, pagi ini kami akan memulai tugas KKN kami sesuai dengan jurusan kuliah kami. Saya mengajar bahasa Inggris di desa dan di kota. Di Wanukaka saya mengajar di SMP dekat rumah (SMP Kristen 1 kalo ga salah) dan juga  SD Lahi Hagalang, dekat gereja. Lumayan juga kalo jalan kaki dari rumah Pak Camat. Mungkin ada sekitar 2 km, ya bersyukur kalo bisa nebeng pake motor atau kuda. Di sana kuda masih jadi alat transportasi mayarakat saat itu gaes..
Waktu mengajar mereka, saya pakai pendekatan sederhana dan menyenangkan buat mereka. Kami belajar sambil bernyanyi lagu twinkle-twinkle little star dan Are you sleeping Brother John?, Haha..ternyata mereka senang dan jadi lebih mudah untuk ajar ke materi pelajarannya. Kondisi sekolah di kampung ini sebenarnya tidak buruk, hanya tenaga pengajar yang sangat kurang. Terutama Guru Bahasa Inggris yang tidak ada, hanya menunggu ada bantuan dari sekolah lain atau dinas pendidikan. 
Kegiatan mengajar bertambah karena ada lagi jadwal mengajar di Waikabubak untuk karyawan Pemda dan instansi Sumba Barat, kantor Pos, Askes, Bapeda, Deparpostel, bahkan Dinas P&K (Pendidikan & Kebudayaan). Senang  dan jadi ga bosan karena jadi sering mondar-mandir kota Waikabubak-Wanukaka. Kalo rindu makanan jawa bisa mampir nge-bakso di dekat pasar, sebelum naik angkutan umum pulang ke Wanukaka hahaha...


MENDADAK JADI DOKTER
Nah, info saat itu wilayah Sumba Timur dan Barat masih endemik malaria. Jadi kami dari awal berangkat sudah dibekali dengan obat malaria yang harus diminum berkala. Makanya, di tim KKN Sumba Barat sayalah  PIC P3K, yang pegang obat dan kontrol pembagian resochin ke tiap anggota. 
Ada satu kejadian lucu, waktu itu Bapa Camat lagi datang malarianya. Karena kehabisan obat, maka saya kasih obat malaria yang saya punya. Sebelumnya saya doain dulu obatnya, biar diberkati dan bisa menyembuhkan. Puji Tuhan besoknya langsung sembuh. 
Beberapa hari kemudian, di malam hari sebelum tidur,  Bapak Adi Haga tiba-tiba datang mencari saya. Orangnya   berbadan tinggi besar, berkulit hitam legam, orang desa bilang beliau ini sakti, waktu pasola dulu hebat sekali). Sempat gemetar juga waktu itu, pikir apa saya ada salah ya??
"Ubbu, tenggorokan saya sakit ini ada obat tidak?" tanya Bapa Adi Haga.
Hah? Jujur sempat bingung, bagaimana ceritanya beliau bisa datang minta obat ke saya? Akhirnya saya ke kamar, ambil obat dan doakan dulu sebelum saya kasih.  Besoknya waktu ketemu beliau, dia bilang sakitnya sudah hilang. Gantian saya yang bengong. Terima kasih ya Tuhan.. 
Pernah Tim KKN Sumba Timur beserta Dosen pembimbing mereka yang kebetulan adalah seorang dokter, datang berkunjung ke Wanukaka. Berita tentang saya, obat dan penduduk ini sudah didengar oleh pak dokter (Kalo ga salah Dr. Ambar namanya).
Beliau malah memberikan 'pelatihan kilat', bagaimana diagnosa sederhana dan mengetahui gejala penyakit umum, juga dosis pemberian obat. 

Cerita memang sudah menyebar di desa. Bahkan beberapa penduduk mulai memanggil saya "Pak Dokter" (harusnya kan Pak Guru). Sampai ada  seorang ibu mencari saya  dan minta tolong obati anaknya, umur balita yang tengah sakit demam. 
Dengan ilmu hitung kira-kira, plus kursus kilat dari pak dokter, saya pecahkan  tablet obat itu, doakan dan kasih obat buat anaknya untuk hari ini dan besok. Saya bilang kalau obatnya habis tapi masih panas, harus bawa ke rumah sakti untuk cek darah.. (gaya ngomongnya kaya dokter gitu)

Puji Tuhan, anaknya sembuh!
Saya sendiri aja masih ga percaya kalo ingat ini. Bisa saja dijelaskan begini; karena mereka jarang kena obat, jadi reaksinya berbeda. Sembuhnya lebih cepat. Faktor lainnya tentu karena kekuatan doa setiap saya kasih obat itu. Thank God!
@mahewardhana