Sabtu, 02 Maret 2019

KAWIN CULIK

Sepertinya dulu sering kita mendengar teman kita dijodohkan oleh orang tuanya, orang bilang  kawin paksa.  Tapi pelan-pelan mulai jarang kita dengar, benar atau tidak katanya generasi 90an adalah generasi yang mulai memberontak untuk tidak mau dijodohkan. Terutama mereka yang hidup di kota besar ingin punya pilihannya sendiri, termasuk masalah jodoh. 
Tapi waktu kuliah dulu, beberapa teman saya dari Sumba banyak cerita tentang perjodohan mereka dari kecil. Mereka diharuskan mematuhi tradisi tersebut supaya keluarga besar tidak malu. Sudah dipastikan tradisi tersebut berat dan sangat ribet. Gimana ga ribet jika kedua orang tua yang berbesan anak mereka sejak kecil, pihak laki-laki mulai menyicil dengan pemberian belis atau mahar  kepada pihak perempuan. Belis di Sumba adalah sejumlah hewan ternak mulai dari yang terkecil seperti ayam,  kambing, babi hingga kerbau atau kuda. Jumlahnya hingga menikah nanti bisa berpuluh-puluh ekor, tergantung harga belis yang disepakati. Mungkin ini alasan buat cowok2 mundur teratur saat mulai naksir perempuan Sumba. Padahal perempuan Sumba itu cantik dan eksotis, tapi kalau ga kuat bayar belis, gimana?
         
Lalu apa maksudnya Kawin Culik??
Pernah ada kejadian saat kami mahasiswa KKN sedang pergi ramai-ramai ke pantai. Jaraknya tidak jauh, kurang dari 5 km saja dari kampung. Sore itu kami tengah berjalan meninggalkan kampung menuju pantai, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dalam bahasa Sumba. Awalnya kita cuek, ah palihng-paling si Laumeting (nama sebenarnya atau samaran saya ga tau), orang gila yang suka teriak-teriak keliling kampung. Tapi kami lihat dari kejauhan warga berlarian keluar rumah,  heboh. Kami pun diberitahu bahwa barusan terjadi penculikan gadis desa oleh seorang pemuda berkuda. Hah, kok bisa? Untuk apa?
Mereka bilang inilah kawin culik, sebuah tradisi unik (tapi agak gimana gitu ya), seperti yang baru saja terjadi. Si perempuan muda yang cantik berhasil dibawa kabur oleh  pemuda dari desa lain dan  lolos dari pengejaran. Si perempuan kalah dan si penculik menang! Artinya si laki-laki disahkan secara adat untuk menikahi perempuan yang disukainya.
Pihak keluarga laki-laki barus saja datang membawa 1 ekor babi
saat kami tiba di depan rumah
Kemudian, pihak  keluarga laki-laki akan mendatangi keluarga pihak perempuan untuk bertanggungjawab, bukan untuk mengembalikan si perempuannya, tetapi menyelesaikan perjanjian belis yang harus dibayar. Secara adat perempuan itu sudah sah menjadi milik laki-laki, si penculik. 
Om Boku Haga sebagai yang dituakan juga ditunjuk sebagai wali pihak perempuan yang diculik.  Kok jadi agak dejavu ya, ingat waktu saya datang survey  lalu,  sepertinya mereka sedang menyiapkan acara adat, apakah untuk membahas belis untuk pernikahan karena kawin culik  lagi ?? Ini di tahun 2012 lho?!

Bagaimanapun kedua belah pihak sepakat dengan belis yang harus dibayarkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Akibat dari kejadian ini, maka otomatis semua perjanjian sebelumnya antara pihak perempuan dengan pihak lain  (yang pernah dijodohkan sebelumnya) akan putus dan tidak berlaku, demikian juga pada keluarga laki-laki dengan pihak lain, juga putus.
Ribetnya lagi adalah jika pihak keluarga perempuan sudah pernah menerima pinangan dan mendapat hewan ternak dari calon besan sebelumnya? Hewan-hewan tersebut, anggap saja DP, maka itu semua harus dikembalikan. Sedangkan keluarga si penculik akan menelan kerugian hewan ternak jika pernah memberikan kepada calon sebelumnya? Mungkin untuk menutupi malu dan hilangnya  harga diri di depan calon besan sebelumnya.     
Terakhir, gara-gara kejadian ini kami mahasiswa laki-laki jadi sangat hati-hati dan menjaga teman-teman kami para mahasiswi                                                                                         
@mahewardhana
Om Boku Haga duduk bersama warga
Bapa Nicko dan bapa2 lainnya juga hadir