Sabtu, 02 Maret 2019

SAYA DAN KUDA PERNAH AKRAB

Sumba terkenal sekali dengan kuda sandalwood yang gagah dan kuat, ga kalah dengan kuda Australia. Kuda pacu asli Sumba juga luar biasa kencangnya. Beruntung saya dan teman-teman sempat menonton pacuan kuda di Waikabubak. Seru abis, karena baru kali ini nonton langsung (8/8/96). Gilanya lagi, jokinya masih anak-anak kecil dan mereka tidak pakai pelana kuda!
Sewaktu kami di desa, saya diperbolehkan menunggang kuda, tanpa pelana juga. Beginilah cara orang Sumba. Pelan-pelan saya coba bagaimana mengendalikan kuda tuk tik tak tik tuk.. nah sudah mulai benar nih. Tambah kecepatan sedikit, belok kiri, kanan, berhenti, berhasil!! Akhirnya saya sudah mulai dilepas, sampai berhasil melewati kali kecil. Sangat menyenangkan sampai-sampai lupa sama sakitnya pantat dan lupa diri juga. Dah berasa kaya koboi deh..
Selesai naik kuda, kami berkumpul untuk meeting koordinasi. Saya ga sadar kalau rambut-rambut kuda semua di seluruh baju, celana saya. Sementara perubahan cuaca dari panas ke dingin, angin lumayan kencang terjadi saat itu.
Mata saya merah, bersin-bersin sampai sesak napas...  Inilah akhir cerita kedekatan saya sama kuda. Jadi kalau ada yang pernah perhatikan saya tidak bisa dekat dengan kuda, bersin-bersin karena dekat kuda, ini awal muasalnya. Barangkali ada yang masuk ke hidung, yang jelas  badan saya jadi trauma kalau dekat kuda.. Semoga nanti sembuh dan masih sempat naik kuda lagi ya... Sudah saatnya kita akrab lagi, saling maf-maafan deh..
Waktu masih akrab, di Wanukaka, 1996

@mahewardhana