Sabtu, 02 Maret 2019

PASOLA HAUL

Sumba terkenal dengan Pasola, terutama Wanokaka dengan Pasola Nyale. Sayang waktu kami praktek Kuliah Kerja Nyata tidak pas waktunya.  Pasola Nyale di lapangan Wanukaka diadakan  di bulan Februari Maret tiap tahunnya.  Tapi dasar nasib lagi beruntung, ternyata akan diadakan pasola di lapangan kecil di belakang rumah kami, rumah Bapak Camat Wanukaka.  Pasola ini dinamakan Haul untuk mempersiapkan waktunya tanam padi, sebagai rasa syukur dan doa masyarakat agar panen nanti akan baik hasilnya.

20 Agustus 1996
Malam ini para Rato berkumpul di kampung adat di atas bukit, kami pun diajak ikut ke atas untuk menyaksikan upacara adat Marapu, kepercayaan lokal akan arwah nenek moyang, sebagai perantara kepada Tuhan yang Maha Esa.
Tidak semua pergi ke atas, hanya kurang dari 5 orang saja yang mau trekking malam-malam ke atas bukit. Sampe di atas suasan terasa begitu mistis, berpadu dalam kegelapan. Hanya ada obor sebagai penerangannya.

Di atas kami dipersilakan duduk di bale-bale rumah adat sambil mengunyah sirih pinang yang diberikan. Ambil kesempatan sedikit untuk bisa tanya sambil  melihat apa yang ada di situ sebelum memulai ritualnya. Saya sempat memegang tambur yang ada di situ, seperti ada rambut kasar atau seperti ijuk disamping tambur. Sayang kondisi saat itu sangat gelap, jadi tidak kelihatan jelas bentuknya. Entah memang benar atau sekedar menakut-nakuti saya, seorang warga yang menjadi guide kami mengatakan bahwa tambur tersebut terbuat dari kulit kepala manusia dan masih ada rambutnya. Itu sisa peninggalan jaman dulu waktu masih mengumpulkan kepala-kepala musuh yang dikalahkan saat perang suku atau kampung. Hadeehhh yang Be sajaaa... 
Setelah itu kami keluar dari rumah, ikut menyaksikan ritual adat. Ada yang menari, ada yang pukul gong dan tambur sambil berteriak berbalasan (kayaka dan kakalak). Uceleleleleleele...huuuh!! kurang lebih begitu teriakan mereka. Bikin merinding.  Tak lama kami turun bukit karena mereka akan segera bergerak. Melanjutkan berburu semalaman, dipandu anjing-anjing pemburu yang berisiknya minta ampun..

21 Agustus 1996
Pasola haul dilakukan di sore hari. Saya lupa kenapa di hari itu saya tidur siang dan bangun agak kesorean. Padahal harusnya beberapa teman kami ikut main bola dan juga ada yang ikut mencoba pasola haul.
Suara orang-orang dan kuda terdengar dari arah belakang rumah yang saya tinggali. Saya bangun dan duduk sebentar di bale-bale dekat kandang babi di belakang rumah. Maksud hati mau menyusul menonton pasola, akhirnya harus gagal. Tiba-tiba seorang ibu datang membawa pemuda yang mukanya sudah berdarah-darah. Mama datang dan bilang,"Nak Dokter, boleh tolong dulu ini anak ada luka."  Saya hanya jawab," ya mama, coba saya lihat dulu, jawab saya singkat sambil mencoba memeriksa lukanya. Hahaha habis sudah coba jelaskan kalau saya ini bukan dokter, tetap saja penduduk desa di sini bilang saya dokter.  Mereka benar-benar polos.
Ya, dia peserta pasola yang mukanya luka terkena lembing lawannya. Ya Tuhan, lumayan juga darah yang mengalir. Sepertinya luka karena gesekan lembing di pelipis.  Akhirnya saya coba bersihkan luka dan obati pemuda ini dengan bermodalkan training P3K singkat  beberapa waktu lalu. Baca https://mahewardhana.blogspot.com/2019/03/dari-guru-mendadak-jadi-dokter.html
Setelah diobati, pemuda itu pulang. Demikian mama dan adik-adik juga pulang dengan selesainya acara Pasola Haul.. Sayang sekali... Tapi ga apa-apa, karena saya harus menjalankan tugas saya sebagai seorang 'dokter' hahaha
@mahewardhana