Senin, 04 Maret 2019

KEMBALI KE WANUKAKA SEKALI LAGI

25 Agustus 1996 
Setelah tadi malam kami menginap di Hotel Rakuta, Waikabubak, kami melanjutkan  ke Anakalang. Sebenarnya ini bukan kali pertama kami ke Anakalang. Kak Bani Umbu Rauta sempat mengajak kami pergi malam-malam ke Anakalang karena ada kedukaan. Seorang tua yang umurnya lebih dari 100 tahun meninggal!
Malam ini kami mengunjungi rumah teman kami mahasiswa KKN di Anakalang. Setelah itu kami bermalam di rumah besar keluarga Kak Bani. Sama juga tradisinya, banyak diundang makan dan kami harus menghargai yang mengundang. Tradisi yang sudah berkurang kalau tinggal di kota, bukan? Konon katanya itu masih berlangsung sampai sekarang
Tiba-tiba malam itu ada orang yang mencari saya dan Him dari Wanukaka. Om Endi, datang naik motor hanya untuk memberikan amplop dari Bapa dan Mama. Isinya uang untuk ongkos di jalan. Ya Tuhan, kenapa begini sih?
Sebetulnya waktu di rumah saya sempat memperhatikan cara hidup mereka. Memang sangat sederhana, apa adanya dan tidak berlebih. Anak mereka juga cukup banyak. Lebih baik uang ini disimpan untuk adik-adik, akan lebih berguna. 
Baca juga https://mahewardhana.blogspot.com/2019/03/drama-tersisa-di-lapangan-sepakbola.html

26 Agustus 1996
Siang ini kami masih masih ada kegiatan promosi kampus kami, UKSW ke SMA Kristen dan SMAN I. Setelah itu saya dan Himawan meminta ijin untuk bisa pergi ke Wanukaka untuk mengembalikan amplop isi uang yang dititipkan lewat Om Endi. Akhirnya selepas magrib kami diijinkan dan dipinjamkan motor. 
Saya dan Himawan mengendarai motor dari Anakalang ke Wanukaka. Malam hari jalanan sangat sepi, tapi di atas tetap ramai. Hobi saya kalau malam datang, menatap langit Sumba yang bersih dan indah sambil menghitung bintang jatuh.
Akhirnya sampai juga kami di rumah Bapa Camat. Bapa sudah berangkat ke Waingapu. Hanya ada Mama dan adik-adik yang sudah masuk kamar untuk tidur. Kami mecoba menjelaskan dan mengembalikan amplop itu. Rasanya kami ga tega, sudah terlalu sering ngerepotin keluarga ini. Tapi mama tidak mau. Katanya ini amanah dari Bapa. Kalau ditolak Bapa bisa marah.  Ga lama Om Endi pun datang, membawa sebotol bir (pasti ada yang panggil dia). Habiskan dulu sebotol bir, baru kami dibolehkan pergi. Hm.. ternyata Om Endi juga berusaha menahan kami. Jadilah kami duduk minum bir sambil bercerita. Om Endi cerita, tentang kemarin malam sebelum berangkat ke Waingapu, Bapa membereskan pakaiannya.Om Endi seperti biasa menemaninya dengan sebotol bir dan 3 gelas. Kok 3 gelas? Katanya biasanya kita minum bertiga, 1 gelas disisakan untuk saya. Ada-ada aja. Malam sudah larut, pukul 11:00 saya dan Himawan kembali naik motor menuju Anakalang. 

Hari-hari berikutnya..
Kami masih melakukan beberapa kegiatan. Ada promosi kampus ke sekolah-sekolah, ikut teman kami yang pulang kampung ke Waijewa lalu ke Lewa. Seru kan, semua jadi senang.  Terakhir kami mengunjungi pantai Tarimbang sebelum lanjut ke Waingapu. Kalian yang pernah ke sini pasti bisa bayangkan indahnya pantai ini. Tapi saya ragu kalian bisa membayangkan kami yang datang di tahun itu. Dulu kami  merasa seperti menemukan surga, tidak ada orang lain selain kami.

30 Agustus 1996 
Malam hari, kami bersama tim KKN Sumba Timur siap naik kapal.
Om Yanis Lubalu, Bapeda Sumba Barat ikut mengantar kami tapi hanya sampai di dermaga. Beliau hanya melihat kami naik ke kapal lalu langsung pergi. Padahal masih banyak waktu untuk ngobrol dulu. Kenapa? Saya bisa mengira-ngira alasannya.

31 Agustus 1996 pukul 04:00.
Subuh ini kapal bergerak meninggalkan dermaga Waingapu, berlayar menuju Surabaya. Kami benar-benar meninggalkan Pulau Sumba. Terima kasih banyak.. 

Sampai tadi malam, kami tidak bertemu lagi dengan Bapa Camat.
Kami pamit pulang Pa...


@mahewardhana