Sabtu, 02 Maret 2019

HARI-HARI TERAKHIR DI WANUKAKA (1)

NGE-BIR PAGI-PAGI
Pagi hari,  17 Agustus 1996
Saya terlambat bangun mungkin karena kelelahan atau terlambat tidur semalam, padahal pagi ini saya harus segera bergabung untuk ikut upacara kemerdekaan. Rasanya mengantuk sekali. Beberapa kali saya menguap di atas motor  yang saya kendarai. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan lalat yang tiba-tiba masuk ke dalam mulut saya. Sial, ga bisa dikeluarin pula. Terpaksa saya telan deh.. Ga lama kemudian saya tersadar saat melihat 'ranjau kebo' yang bertebaran di sisi lapangan dengan lalat-lalat beterbangan. Langsung panik saya coba muntahin lagi apa yang saya telan barusan. Gagal! 
Baru ingat, di sini warung-warung bebas jual bir. Buru-buru saya lari ke warung untuk beli bir dan cepat-cepat minum. Semoga lalat yang saya telan kena alkohol jadi kumannya mati. Ahh teori macam apa itu?!


18 Agustus 1996
Rombongan KKN pergi ke kampung Pak Camat, Tana Righu. Silakan baca PLESIR KE TANA RIGHU

21 Agustus

TANDING SEPAK BOLA & PASOLA HAUL
Seperti kampung-kampung di Jawa, di sini juga terasa semangatnya warga merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Beberapa mahasiswa KKN yang hobi olah raga, diajak ikut membela tim sepakbola sampai tingkat Kecamatan. Saya tidak bisa ikutan karena jadwal saya yang harus bolak-balik Wanukaka - Waikabubak. Jadi penonton dan tim hura-hura saja bareng cewek-cewek hahaha...
Harusnya ini hari terakhir mengajar di Pemda, tetapi batal karena tidak ada yang datang. Saya pulang dan tidur siang supaya nanti sore bisa lihat teman-teman bertanding dan lanjut nonton Pasola Haul. Silakan baca PASOLA HAUL

22 Agustus 1996
DIBERI NAMA WANUKAKA
Tinggal beberapa hari lagi kami tinggal di sini bersama warga. Padahal kami sedang dekat-dekatnya. Sudah banyak cerita yang kita buat bersama warga, kita pun sudah merasa jadi orang desa sini. 
Kebiasaan kami mahasiswa KKN adalah berkumpul di bale-bale bunga bougenvile depan rumah Om Boku Haga, sambil bernyanyi, bercanda terkadang serius membahas sesuatu.  Rasanya ami tidak siap untuk pergi. 
Sore ini seperti di catatan saya, Kepala Sekolah,  Bapa Nico Uli Lay memberikan nama  Sumba dari Wanukaka kepada saya dan Himawan. Nama Wanukaka saya adalah LODU KANO. Katanya artinya itu Anak Matahari. Himawan juga mendapatkan nama, yaitu LEIHUPAJOJANG.  Semoga Himawan masih ingat arti namanya. Kemudian Bapa kasih saya kain Sumba sambil berpesan bahwa kain itu tolong nanti diberikan kepada calon istri saya menjelang menikah, tanda restu dari Bapa dan Mama.
Saya bersama Bapa Nico Uli Lay waktu survey 2012 
                                     @mahewardhana