Minggu, 03 Maret 2019

TERIMA KASIH WANUKAKA, KAMI PULANG

24 Agustus 1996
Lagu favorit kami, terutama Adri Sabaora, yang sering pimpin kami menyanyi lagu ini di bale-bale taman bougenvile, tempat pertemuan mahasiswa KKN. Sepenggal lagu asal Papua yang sengaja diubah liriknya...

Di taman bunga yang permai
di Wanukaka manise
Ku pertama, ku pertama 
Jatuh cinta..

Meski hanya kurang lebih satu bulan KKN di sini, tapi entah kenapa kami merasa sangat dekat. Perpisahan jadi sangat menyesakkan, Wanukaka banjir tangisan .  
Selamat tinggal, Wanukaka
RUMAH PERTAMA
Inilah hari itu, dimana kami berkumpul dari rumah yang paling ujung, tempat mahasiswi tinggal selama KKN. Mama yang sudah tua, baiknya dan sabarnya luar biasa. Mudanya pasti cantik. Kalau memang benar gosipnya dulu Soekarno jatuh hati pada mama Malli, saya ga heran. Tapi sekarang mama Malli tampak tidak bisa menahan air mata melepas anak-anak perempuannya kembali ke jawa. Kami yang hadir pun tidak bisa menahan, semua larut dalam tangisan. Padahal ini baru rumah pertama, bagaimana nanti?? Ya, Tuhan.. Perpisahan diiringi tangisan terus berlanjut saat berpamitan ke keluarga berikutnya, dan berikutnya lagi. Kami tidak kuat, air mata tumpah ..

Teringat pesan ayah, saya mencoba mengingatkan Himawan. Paling tidak sebelum sampai di rumah Bapa Camat (urutan kedua sebelum terakhir), kami sudah bisa mengontrol emosi kami. Huff... berat sekali menahannya.


MELEWATI SD LAHI HAGALANG
 Drama pun berlanjut, padahal film Laskar Pelangi saja belum ada di tahun 1996! Kami berjalan menuju bus yang sudah menunggu di dekat SD Lahi Hagalang, untuk melanjutkan perjalanan.  Tetapi langkah kami terhenti melihat guru-guru dan murid-murid SD berjalan bergandengan tangan ke arah kami. Mereka semua menyanyikan lagu bahasa Inggris yang pernah kami ajarkan!!! Kami merasa bangga sekaligus sedih.



Are you sleeping?
Are you sleeping? Brother John, Brother John
Morning bells are ringing
Morning bells are ringing
Ding ding dong
Ding ding dong
Sungguh lagu riang yang menyedihkan saat itu...

Terima kasih semuanya, tetap belajar yang rajin ya. Semoga guru bahasa Inggris yang baru segera datang. Kami berpelukan, pamit lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Bapa Camat, ke rumah saya dan Himawan."Tuhan tolong kuatkan kami," bathinku sambil menghapus air mata dan menarik napas dalam-dalam.

DI RUMAH
Akhirnya kami sampai di rumah Bapa Camat, tempat saya tinggal. Buru-buru saya dan Him ijin masuk ke kamar buat menyiapkan barang-barang kami. Setelah itu Kak Bani Umbu Rauta, dosen pembimbing dan juga Bapa Camat bergantian memberikan sepatah dua patah kata. Saya lihat kain putih yang semalam rencananya diberikan kepada saya, oleh Bapa Camat akhirnya diberikan untuk Universitas sebagai kenang-kenangan. Mata mulai berkaca-kaca, tapi saya tahan supaya tidak menangis.
Akhirnya Himawan memimpin doa penutup, dengan sedikit terbata-bata karena menahan tangis. 
Saatnya berpamitan. Satu-persatu mulai bersalaman, cium hidung tradisi Sumba, air mata teman-teman kembali menetes. Meski mata sudah merah dan perih, herannya air mata tidak jatuh.  Saya lihat mata bapa juga merah dan sedikit berkaca-kaca, menahan tangis.
Saya mengerti. Bapa tidak mau menangis di depan orang banyak. Lagi pula sore nanti masih ada pertandingan antar Wanukaka lawan kecamatan lain dalam rangka Agustusan di Waikabubak. Nanti masih ketemu, kok. Mungkin itu maksudnya kita belum benar-bemar berpisah siang ini.
Saat tiba giliran, saya menyodorkan hidung untuk cium Sumba. Sama seperti teman-teman yang lain. Bapa menolak cium Sumba, sambil bilang," kita belum berpisah". 
Lalu saya balas, "Pa, saya tepati janji  tidak menangis."
"Jadilah pejuang!." 
Wah, rasanya ga karuan saat itu. Persetan kalo orang bilang ini drama, lebay lah. Tapi inilah yang terjadi. Akhirnya saat saya pamit ke mama, saya pun menolak cium hidung. Karena bapa yang memulai begitu. Mama menangis lalu tetap memohon," Ubbu, kasih cium sama mama!"  Kasihan. Ya, kami pun melakukan cium Sumba, juga kepada adik-adik.
Gila, ini sudah seperti ibu dan anak beneran!  O Tuhan... 
Terima kasiih Wanukaka, kami pulang...

@mahewardhana