Sebelumnya program Ethnic Runaway baru saja menyelesaikan shooting pertama kami di Ratenggaro. Dikarenakan adwal penerbangan ke Sabu yang tidak cocok, akhirnya kami putuskan shooting di Mamboro, Sumba Tengah. Di lokasi Mamboro Fanny yang bertugas sebagai Creative. Yoga kembali pulang ke Jakarta untuk langsung menyiapkan tayangan. Dalam perjalanan kami, meski cuaca mendung tetap saja kami menyempatkan diri berfoto. Rasanya seperti berada di dunia 'teletubies' .
![]() |
| Bersama Gina 'Iting' & Fanny. mantan Produser, PA & Creative ER |
![]() |
| Kukuh (paling kiri) dan Andi (paling kanan), Camera Person ikut bergabung |
![]() |
| Pernah muda... |
![]() |
| Penyambutan Bapak Wakil Bupati Sumba Tengah yang datang |
![]() |
| Bersama Bapak Wakil Bupati beserta Ibu dan jajaran Pemda Sumba Tengah |

Tradisi Sumba pun kami lakukan, mulai dari sirih pinang hingga potong hewan. O iya, dikarenakan artis dan crew yang datang mayoritas muslim, maka ayam lah yang dipotong lalu diambil atinya untuk dibaca. Sambil menunggu ayam diproses, saya dan Fanny diminta untuk memakai kain adat lalu secara simbolik diberi nama Sumba. Fanny mendapat nama Rambu Anawowi sedangkan saya mendapat nama Umbu Tonga, katanya itu adalah nama seorang mantan Bupati asli Mamboro. Wah, jadi total saya punya 3 nama Sumba dari 3 daerah berbeda (baca juga di cerita-cerita di KKN SUMBA 1996 di blog saya).
![]() |
| Umbu Tonga & Rambu Anawowi |
![]() |
Upacara potong ayam, dibaca ati ayamnya untuk mengetahui baik atau tidaknya dari maksud kedatangan, lalu dibakar
|
![]() |
| Mike Lukock dan Natalie Sarah |
Ethnic Runaway kali ini mengajak Mike Lukock dan Natalie Sarah. Mereka pun turut diberi nama Sumba. Sayangnya saya tidak ingat nama-nama mereka. Nanti saya cari tahu.
Akhirnya dua orang artis ini berbaur bersama warga, menyelami kembali tradisi dan keseharian Suku Mamboro, Sumba Tengah.
Hujan sempat jadi kendala shooting kami saat itu. Kejadian yang masih ingat adalah di hari pertama shooting. Malam setelah selesai shooting, hujan turun sangat deras. Kami saat itu mendapat rumah kantor kosongan, tidur di atas lantai beralaskan tikar saja. Mulai bingung saat atap bocor. Untungnya Bapa Camat Mamboro mau memberikan tumpangan di rumahnya. Malam-malam artis dan beberapa crew pindah ke rumah Pak Camat.
O ya, ada lagi kejadian yang sedikit aneh. Buat kami orang kota, kejadian ini mungkin hanyalah kebetulan. Tetapi tidak buat warga Mamboro. Saat itu kami shooting di perkampungan orang Mamboro, menampilkan seorang mama yang sedang bekerja di belakang rumah. Artis Natalie Sarah diminta untuk membantu kerja, sambi mencari tahu bagaimana prosesnya, tradisinya dan lain-lain. Hanya saja lokasi kami bersebelahan dengan sebuah rumah yang dikeramatkan. Tidak boleh asal masuk ke pekarangan rumah ini, apalagi shooting di situ. Sayangnya kami tidak memperhatikan hal itu, lupa. Demi lancarnya shooting, Fanny menjaga tiap adegan dan detil lainnya. Fanny tanpa sengaja sempat melanggar aturan dengan menyebrang masuk pekarangan.
Kita semua disadarkannya saat tahu Fanny mengalami bengkak-bengkak di muka. Kita pikir digigit serangga. Kami coba memberikan minyak kayu putih. Tetapi orang desa bilang lain, ini karena kamu melanggar aturan hubungannya dengan rumah yang dikeramatkan. Bisa jadi alam atau roh nenek moyang merasa terganggu. Perubahan terjadi setelah orang yang dituakan di desa mengusapnya dan sepertinya sudah berbicara kepada roh nenek moyang (marapu) untuk minta maaf. Bengkak-bengkaknya hilang!
Makanya, dimana pun kita berada apalagi shooting di tempat yang kita tidak kenal, sudah seharusnya kita selalu mawas diri dan tidak ceroboh.
![]() |
| Mama tua yang tampak sehat sedang bekerja |
![]() |
| Para mama dan anak-anak, selesai upacara penyambutan Wakil Bupati |
![]() |
Curah hujan yang tinggi jadi tantangan kami kali ini |
![]() |
| Njara Negu Kuda yang menari ke sana-ke sini setiap mendengar bunyi gong dan tambur |

![]() |
| Mengerahkan seluruh warga untuk ikut berpartisipasi |
![]() |
Para artis dan crew juga mendapat cindera mata kain tenun Sumba
dari Bapak Bupati Sumba Tengah, Bapak Umbu Sappi Pateduk
|
@mahewardhana















